Menurut keterangan orang tuanya "Ria" saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya mengatakan kepada awak media pada awal ditemukannya penyakit itu, Ash tidak menunjukkan gejala yang mengganggu aktivitasnya sehari-hari. Selain itu, kendala biaya juga menjadi alasan keluarga tidak melanjutkan pemeriksaan rutin saat itu. Saat itu, kepesertaan jaminan kesehatan yang dimiliki adalah jenis mandiri, sedangkan ayahnya, Azwar, hanya bekerja sebagai buruh harian lepas dengan penghasilan yang tidak menentu dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus membayar iuran secara rutin. Ibu Ash, Ria, bekerja sebagai pengurus rumah tangga dan penghasilannya juga terbatas.
Perubahan kondisi yang mengkhawatirkan terjadi pada Agustus 2025, di mana Ash tiba-tiba mengalami kelumpuhan di sebagian tubuhnya. Keluarga kemudian mengurus kepesertaan jaminan kesehatan yang dibebaskan dari biaya dan akhirnya bisa melakukan pemeriksaan kesehatan secara lengkap. Pemeriksaan pertama dilakukan di Rumah Sakit Aisyah Pariaman, di mana dokter menemukan kadar kalium dalam tubuh Ash berada di bawah batas normal yang seharusnya. Karena kondisi dianggap serius dan membutuhkan penanganan lebih mendalam, Ash kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Umum Pusat Dr. M. Djamil Padang.
Hasil pemeriksaan di rumah sakit rujukan menunjukkan fungsi ginjal Ash sudah menurun drastis dan mengarah pada tahap gagal ginjal. Mulai saat itu, Ash diwajibkan datang untuk kontrol kesehatan setiap bulan guna memantau kondisi, mendapatkan penyesuaian pengobatan, dan mencegah terjadinya komplikasi yang lebih parah.
Selain pengobatan yang berjalan terus-menerus, Ash juga harus mengikuti aturan pola makan yang sangat ketat. Ia dilarang mengonsumsi makanan yang mengandung banyak garam, penyedap rasa buatan, dan jenis makanan lain yang bisa memperberat kerja ginjalnya. Hal ini membuat pengaturan kebutuhan makan di rumah menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga, karena harus menyiapkan masakan yang terpisah dan memenuhi syarat kesehatan, sementara kondisi ekonomi keluarga masih sangat terbatas.
Hingga saat ini, keluarga mengaku belum pernah mendapatkan bantuan sosial apa pun dari pemerintah maupun lembaga lain, padahal kepala keluarga sudah masuk usia lanjut dan penghasilan yang diterima tidak tetap serta tidak cukup besar untuk menanggung seluruh kebutuhan. Keluarga sangat berharap perhatian dan bantuan, baik berupa dukungan materi, kebutuhan makanan khusus, maupun bantuan pengurusan administrasi agar mereka tercatat sebagai penerima bantuan yang sah dan berkelanjutan.
“Kami hanya ingin anak kami bisa bertahan hidup, kondisinya tidak makin buruk, dan kami bisa terus membawanya berobat tanpa rasa khawatir berlebihan tentang biaya dan kebutuhan sehari-hari. Kami berharap ada pihak yang mendengar dan menolong kami,” ujar orang tua Ash dengan nada penuh harapan.
(Jamal)






.jpg)



