Mari kita jadikan setiap pelayanan yang diberikan dan senyum masyarakat sebagai indikator keberhasilan puasa kita. Pelayanan yang bersih dari gratifikasi akan membawa ketenangan batin. Tidak hanya lulus menahan haus dan lapar, tapi juga lulus dalam menjaga amanah sebagai abdi negara yang berintegritas.
Melansir dari terbitan pemberitaan https://jaga.id/berita., disebutkan bahwa "Melayani dengan Tulus, Pulang dengan Tenang. Selamat Menunaikan Ibadah Puasa".
Kondisi diatas tentu bisa membangun suasana yang berbeda di bulan Ramadan. Di kantor-kantor pelayanan publik, kita melihat petugas yang tetap tersenyum meski sedang haus dan lapar, dan warga yang tetap sabar mengantre. Ramadan bukan sekadar menahan haus dan lapar, tapi juga momen emas untuk memurnikan niat dalam melayani.
Melayani Adalah Ibadah. Bagi petugas pelayanan publik, melayani masyarakat dengan siaga, tepat waktu dan profesional adalah wujud pelayanan prima dan menjadi ladang pahala. Bayangkan, membantu urusan masyarakat saat diri sendiri sedang berpuasa itu nilainya luar biasa.
Namun, ujian sesungguhnya bukan hanya menahan haus dan lapar, melainkan menjaga integritas di tengah kerentanan. Terkadang, ada Pengguna Layanan yang merasa tidak enak hati setelah urusan pelayanan selesai, lalu mencoba memberikan "uang buka puasa" atau "sekadar uang rokok" sebagai bentuk simpati. Di sinilah nilai puasa kita diuji.
Sebab menerima pemberian yang berkaitan dengan jabatan, meski dibungkus dengan alasan kemanusiaan atau "tanda kasih, tetaplah sebuah gratifikasi. Membiarkan praktik ini terjadi sama saja dengan membiarkan noda setitik merusak ibadah Puasa dan Integritas Pelayanan Publik.
(Eko B Art).





