Kegiatan yang diikuti sekitar 160 peserta ini menjadi wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri jasa keuangan di Provinsi Banten bertempat di aula Kampus, Jum'at 23 Januari 2026.
Direktur Politeknik Piksi Input Serang Yeti Ismawati menyampaikan bahwa pihaknya bersyukur karena telah dipercaya mengelola Galeri Investasi BEI serta telah memenuhi seluruh ketentuan dan regulasi yang ditetapkan oleh BEI sebagai stakeholder.“Alhamdulillah, hari ini Politeknik Piksi Input Serang mendapat dukungan penuh dari BEI, OJK, dan NH Korindo Sekuritas. Ini menjadi semangat baru di tahun 2026 untuk terus mensosialisasikan investasi digital yang aman dan sesuai aturan,” ujarnya.
Yeti juga menyinggung arahan Menteri Keuangan Republik Indonesia, Bapak Purbaya, terkait pentingnya sosialisasi investasi digital kepada masyarakat. Menurutnya, hal tersebut sejalan dengan visi Politeknik Piksi Input Serang sebagai institusi pendidikan yang unggul, inovatif, dan berorientasi pada transformasi global.
“Di era digital, mulai dari orang tua hingga anak-anak sudah terbiasa menggunakan teknologi digital dalam transaksi sehari-hari. Karena itu, literasi digital dan literasi keuangan menjadi hal yang wajib, termasuk pemahaman tentang rambu-rambu investasi yang telah ditetapkan OJK,” jelasnya.
Melalui Sekolah Pasar Modal ini, mahasiswa dibekali pemahaman komprehensif mengenai investasi di pasar modal, mulai dari aspek legalitas, mekanisme transaksi, hingga manajemen risiko. OJK hadir memberikan penjelasan terkait regulasi dan payung hukum investasi, BEI menjelaskan mekanisme perdagangan di bursa, sementara NH Korindo Sekuritas memaparkan peran sekuritas dalam proses jual beli saham.
Sementara itu Kepala dan Pembina Galeri Investasi Sekaligus Dosen Politeknik Piksi input Serang Angga Nugraha, menjelaskan Kegiatan SPM terbagi ke dalam Level 1 dan Level 2. Level 1 berfokus pada pengenalan dasar pasar modal, legalitas, serta regulasi. Sementara Level 2 membahas materi lanjutan seperti analisis fundamental dan teknikal dalam memilih saham yang berkualitas.
“Selama ini masih ada stigma bahwa saham itu judi. Padahal, yang membuatnya seperti judi adalah karena kurangnya pengetahuan. Jika investor memahami fundamental dan teknikal, maka investasi dilakukan dengan perhitungan, bukan spekulasi,” tegas Angga.
Ia berharap, melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mampu menjadi agen literasi keuangan yang dapat mengedukasi masyarakat sekitar tentang investasi digital yang aman dan sehat.
Ke depan, dengan terbentuknya Galeri Investasi BEI Politeknik Piksi Input Serang, pihak kampus berencana mengadakan berbagai kegiatan lanjutan seperti diskusi, kelas edukasi, serta pendampingan investasi secara bertahap.
“Ini adalah langkah awal. Insyaallah ke depan akan ada program berkelanjutan agar literasi keuangan mahasiswa dan masyarakat semakin meningkat, sehingga pasar modal Indonesia semakin sehat dan berkontribusi dalam pembangunan bangsa,” tutup Angga Nugraha.
























