Wakil Ketua II BAZNAS Kota Cilegon Bidang Distribusi, Habibie Abfat, menjelaskan bahwa program Z-Mart dan Z-Auto merupakan program nasional dari BAZNAS RI yang disalurkan ke daerah, termasuk Kota Cilegon.
“Program ini adalah bantuan pemberdayaan dari BAZNAS RI. Z-Mart ditujukan untuk pelaku usaha toko kelontong, sementara Z-Auto difokuskan pada usaha bengkel kecil,” ujar Habibie.
Untuk program Z-Auto, BAZNAS menyalurkan bantuan kepada 15 penerima manfaat dengan nilai bantuan sebesar Rp20 juta per unit. Bantuan tersebut mencakup peralatan bengkel (toolkit) serta pembekalan usaha, sehingga total dana yang digulirkan untuk Z-Auto mencapai Rp300 juta.
Sementara itu, program Z-Mart menyasar 50 penerima manfaat. Setiap penerima mendapatkan bantuan senilai Rp8 juta, yang terdiri dari Rp4 juta untuk branding dan Rp4 juta untuk pengadaan barang dagangan. Total anggaran Z-Mart mencapai Rp400 juta.
“Total dana yang digulirkan dari dua program ini mencapai Rp700 juta. Nilai Z-Auto memang lebih besar karena harga peralatan bengkelnya cukup mahal,” jelasnya.
Habibie menegaskan, tujuan utama dari program ini adalah pemberdayaan ekonomi mustahik agar ke depan dapat bertransformasi menjadi muzaki atau orang yang mampu berzakat dan berinfak.
“Harapannya, mustahik hari ini bisa naik kelas. Dari penerima zakat menjadi pemberi zakat. Inilah esensi dari pemberdayaan ekonomi umat,” katanya.
Program Z-Mart dan Z-Auto di Cilegon ini menjadi pilot project pertama. Jika berhasil, BAZNAS berencana memperluas dan menduplikasi program serupa pada tahun-tahun mendatang, termasuk pengembangan program mikrofinans berbasis masjid.
“Seperti program mikrofinans di dua masjid yang masing-masing menerima Rp150 juta dan kini berkembang, tahun ini akan kami duplikasi ke dua masjid lainnya. Targetnya, pada 2027 program pemberdayaan ekonomi umat bisa semakin luas,” tambah Habibie.
Terkait kriteria penerima manfaat, Habibie menjelaskan bahwa proses seleksi memakan waktu lebih dari enam bulan karena persyaratan yang ketat. Salah satu syarat utama adalah usaha sudah berjalan, namun terkendala permodalan.
“Kami tidak memberikan bantuan kepada usaha yang benar-benar baru dirintis, karena berisiko modal habis. Selain itu, penerima harus berstatus mustahik dan memiliki tempat usaha sendiri, bukan sewa atau milik orang lain,” jelasnya.
Untuk program Z-Auto, BAZNAS juga memprioritaskan bengkel kecil yang beroperasi di rumah sendiri dan belum berkembang besar.
Dana program ini bersumber dari zakat yang dihimpun BAZNAS RI dan disalurkan ke daerah. Habibie menyebutkan, BAZNAS Kota Cilegon dinilai memiliki kinerja yang baik sehingga mendapatkan kepercayaan untuk menerima kuota penerima manfaat cukup besar, khususnya untuk program Z-Mart.
“Alhamdulillah, BAZNAS Cilegon dinilai memiliki performa yang baik, sehingga langsung mendapatkan 50 penerima manfaat Z-Mart pada tahap awal,” ujarnya.
BAZNAS optimistis program ini akan berjalan sukses karena disertai pendampingan intensif selama satu tahun, termasuk pemantauan omzet, perkembangan usaha, serta pelaporan rutin.
“Kami optimis. Pendampingan akan dilakukan secara berkelanjutan agar usaha para penerima manfaat benar-benar berkembang dan berkelanjutan,” pungkas Habibie.
(Vie)






