Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya menyelaraskan program PGRI dengan visi Pemerintah Kota Cilegon dalam mengembangkan sekolah berbasis digital, sekaligus menjawab tuntutan pembelajaran abad ke-21 yang menekankan pemanfaatan teknologi secara efektif dan berkelanjutan.
Kepala SMPN 5 Cilegon, Dr. Asholahudin, atau Akrab di sapa Pak Ade menyambut baik kepercayaan yang diberikan kepada sekolahnya sebagai pusat pengembangan dan pengimbasan. Ia menegaskan kesiapan SMPN 5 untuk menjadi laboratorium pembelajaran digital bagi sekolah-sekolah lain di Cilegon.
"SMPN 5 saat ini memiliki 12 guru fasilitator Google Level 1 dengan kompetensi internasional. Kami siap berbagi praktik baik ke seluruh kecamatan. Meski untuk menjadi Sekolah Rujukan Google terdapat persyaratan yang cukup menantang, seperti penggunaan perangkat Chromebook minimal 80 persen dari jumlah siswa, namun semangat kami adalah memastikan transformasi digital ini memberi manfaat luas, tidak hanya berhenti di sekolah kami," jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa dalam waktu dekat SMPN 5 Cilegon akan mengundang para kandidat Google Educator untuk membahas dan mempersiapkan program pengimbasan yang digagas PGRI Kota Cilegon.
Dari sisi pengawasan dan kebijakan, Koordinator Pengawas Sekolah, Hadiyanto, menegaskan bahwa digitalisasi pembelajaran merupakan amanat regulasi yang harus dijalankan secara optimal.
"Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran sudah menjadi kewajiban, bukan lagi pilihan. Regulasi nasional telah mengatur hal tersebut. Tantangannya adalah memastikan perangkat yang disediakan pemerintah benar-benar digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Kolaborasi PGRI dengan SMPN 5 ini sangat penting untuk menjembatani kesenjangan kompetensi digital di kalangan guru," ujarnya.
Sementara itu, Suleman selaku Bidang Keanggotaan dan Digitalisasi PGRI Kota Cilegon menyoroti pentingnya penguatan sistem administrasi dan manajemen data berbasis digital.
"Transformasi pembelajaran harus diiringi dengan modernisasi tata kelola organisasi. PGRI berkomitmen mengawal agar seluruh anggota memperoleh akses pelatihan yang merata. Tidak boleh ada guru yang tertinggal dalam ekosistem digital pendidikan di Cilegon," tegasnya.
Ketua PGRI Kota Cilegon, Bahrudin, S.Pd., M.Pd., memberikan apresiasi atas keterbukaan dan peran pionir SMPN 5 Cilegon dalam pengembangan sekolah digital.
"Kami sangat mengapresiasi SMPN 5 yang siap menjadi motor penggerak. PGRI akan memfasilitasi distribusi para fasilitator ke seluruh pengurus cabang di kecamatan. Dua belas guru ahli dari SMPN 5 akan kami libatkan dalam program pengimbasan serentak sebagai bentuk nyata kontribusi PGRI dalam meningkatkan kompetensi guru di era digital dan kecerdasan buatan," ungkapnya.
Para fasilitator Google, Saiful (Pak Ipul) dan Bu Nia, menyatakan kesiapan mereka untuk terlibat langsung dalam pelatihan di lapangan.
"Kami akan mengintegrasikan pemanfaatan Google Workspace for Education dengan kebutuhan riil sekolah-sekolah di Cilegon. Fokus kami bukan hanya pada penggunaan aplikasi, tetapi juga perubahan pola pikir agar pembelajaran menjadi lebih kolaboratif, interaktif, dan efisien," jelas mereka.
Dari tingkat cabang, Sekretaris PGRI Cabang Cibeber, Fadli, menyampaikan antusiasme atas rencana program pengimbasan tersebut.
"Kami di tingkat kecamatan sangat menantikan pelatihan ini. Cabang Cibeber siap menjadi salah satu lokasi awal pelaksanaan. Sinergi ini akan memudahkan guru-guru di akar rumput untuk mengakses pelatihan berkualitas dengan standar internasional," katanya.
Kolaborasi PGRI Kota Cilegon dan SMPN 5 Cilegon ini berpijak pada berbagai referensi penting dalam pendidikan modern, di antaranya Google Reference School Framework, pendekatan TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge), Digital Literacy Global Framework UNESCO, serta regulasi nasional terkait pemanfaatan teknologi informasi di satuan pendidikan. Melalui sinergi ini, diharapkan ekosistem sekolah digital di Kota Cilegon dapat tumbuh secara merata dan berkelanjutan.




