Fakta di lapangan justru berbanding terbalik dengan besarnya anggaran. Lapisan aspal terlihat mengelupas, retak, dan berbutir, dengan permukaan jalan menghitam tidak merata dan mulai membentuk cekungan di sejumlah titik. Kerusakan memanjang di tengah badan jalan, memberi kesan kuat bahwa mutu pekerjaan sejak awal patut dipertanyakan.
Ironisnya, kondisi tersebut muncul saat usia jalan bahkan belum seumur jagung. Baru hitungan bulan pasca pengerjaan dan pemeliharaan, namun hasilnya sudah tampak rapuh dan jauh dari kata layak.
“Kalau sudah ada pemeliharaan berkala sampai Rp2 miliar tapi hasilnya seperti ini, wajar kalau masyarakat curiga. Ini jalan, bukan proyek coba-coba,” ujar seorang warga dengan nada kecewa Rabu (28/1/2026).
Butiran aspal yang terlepas tampak berserakan di atas badan jalan, membuat permukaan menjadi kasar dan licin, terutama saat hujan. Situasi ini membahayakan pengendara roda dua dan berpotensi memicu kecelakaan, sekaligus mengganggu aktivitas ekonomi warga sekitar.
Besarnya anggaran pemeliharaan berkala tersebut kini memicu pertanyaan tajam dari masyarakat:
Apa saja item pekerjaan yang dibiayai dari Rp2 miliar?
Apakah ketebalan dan kualitas aspal sesuai spesifikasi teknis?
Di mana peran pengawasan selama pelaksanaan pemeliharaan?
Warga mendesak pemerintah daerah dan instansi teknis terkait untuk membuka secara transparan rincian pekerjaan, melakukan evaluasi menyeluruh, serta memastikan kontraktor bertanggung jawab penuh atas kerusakan dini tersebut tanpa kembali membebani keuangan daerah.
“Jangan sampai anggaran besar hanya menyisakan aspal yang hancur. Ini uang rakyat, harus dipertanggungjawabkan,” tegas warga lainnya.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari dinas terkait maupun pihak pelaksana mengenai penyebab kerusakan dan langkah konkret perbaikan, meskipun proyek tersebut masih dalam lingkup pemeliharaan berkala.
Kondisi ruas jalan Sukadana Ilir–Simpang Tono kini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan telah menjadi cermin kualitas pengelolaan anggaran dan pengawasan proyek infrastruktur daerah.
(Iman)



