Berdasarkan keterangan warga, listrik di desa tersebut umumnya hanya menyala mulai sekitar pukul 16.00 WIB hingga pukul 06.00 WIB. Kondisi ini disebut telah berlangsung bertahun-tahun tanpa perubahan signifikan.
Situasi tersebut dinilai cukup memprihatinkan, terutama saat momentum penting seperti bulan Ramadan. Beberapa warga mengaku, pada saat waktu berbuka puasa justru pernah terjadi pemadaman, sehingga aktivitas masyarakat terganggu.
“Kalau siang hari listrik tidak hidup, aktivitas usaha kecil, anak sekolah belajar, hingga kebutuhan rumah tangga menjadi terbatas. Saat berbuka puasa pun pernah mati,” ungkap salah satu warga yang meminta namanya tidak disebutkan.
Masyarakat berharap adanya perhatian serius dari pihak terkait, baik pemerintah daerah maupun pihak PLN, agar pelayanan listrik dapat ditingkatkan menjadi 24 jam penuh seperti wilayah lain di Kabupaten Ketapang.
Selain berdampak pada aktivitas rumah tangga, keterbatasan pasokan listrik juga dinilai menghambat pertumbuhan ekonomi desa, terutama bagi pelaku usaha kecil dan layanan publik yang memerlukan daya listrik stabil.
Warga berharap ada penjelasan resmi mengenai penyebab belum optimalnya layanan listrik di wilayah tersebut, serta rencana konkret untuk perbaikan ke depan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak terkait belum memberikan keterangan resmi. Media membuka ruang klarifikasi guna memberikan informasi yang berimbang kepada masyarakat.
(Jailani)





