Prosesi sakral ini diawali oleh Imum Syiek Masjid Agung Sultan Jeumpa, Tgk. Saifuddin Muhammad, S.HI., M.H., kemudian dilanjutkan oleh Tgk. Muhammad Hafidz, S.Sy., dan Tgk. H. Ismuar, S.Ag. Setiap percikan air dan butiran tepung tawar yang disematkan bukan hanya simbol adat, tetapi juga mengandung harapan—agar setiap langkah para jamaah dipenuhi keselamatan, kesehatan, dan keberkahan.
Kehadiran Bupati Bireuen, H. Mukhlis, S.T., menambah khidmat acara tersebut. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh hadirin yang telah hadir, membawa energi positif dan doa terbaik bagi para calon jamaah haji.
“Keberangkatan bapak dan ibu sekalian bukan hanya perjalanan pribadi, tetapi juga menjadi cermin bagi kita semua untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semoga ini menjadi inspirasi untuk memperkuat iman dan mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya penuh harap.
Beliau juga mengingatkan bahwa para jamaah telah melewati berbagai rangkaian manasik, baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten. Kini, melalui prosesi peusijuek, masyarakat Aceh kembali meneguhkan tradisi luhur—tradisi yang bukan hanya diwariskan, tetapi juga dijaga sebagai bentuk syukur dan doa kolektif kepada Sang Pencipta.
Dalam momen penuh makna ini, doa-doa pun dipanjatkan dengan tulus: semoga Allah SWT melapangkan jalan, memberikan kesehatan, kekuatan, serta kemudahan dalam setiap rangkaian ibadah di Tanah Suci. Harapan terbesar tentu tersemat agar seluruh jamaah kembali ke tanah air sebagai haji yang mabrur—membawa cahaya keberkahan dan ampunan bagi diri, keluarga, serta lingkungan sekitarnya.
Bupati Mukhlis turut menyampaikan pesan-pesan penting yang sarat makna dan kebijaksanaan. Ia mengingatkan bahwa ibadah haji bukan hanya perjalanan spiritual, tetapi juga perjalanan fisik yang menuntut kesiapan menyeluruh. Menjaga kesehatan sejak dini, mengatur pola makan dan istirahat, serta melakukan olahraga ringan adalah ikhtiar yang tidak boleh diabaikan.
“Tubuh yang sehat adalah kendaraan terbaik untuk menyempurnakan ibadah,” pesannya, mengingatkan bahwa kekuatan fisik akan membantu menghadirkan kekhusyukan dalam setiap rukun dan wajib haji.
Selain itu, jamaah juga diimbau untuk memperhatikan manajemen obat-obatan pribadi serta tidak terlalu memaksakan diri dalam berbagai kegiatan menjelang keberangkatan. Istirahat yang cukup menjadi kunci agar tetap prima saat tiba di Tanah Suci.
Sementara itu, Kepala Dinas Syariat Islam Bireuen, Munawar, S.K.M., M.Kes., melaporkan bahwa jumlah Jamaah Calon Haji tahun ini mencapai 360 orang, yang terbagi dalam dua kelompok terbang: Kloter 5 BTJ Aceh sebanyak 148 orang dan Kloter 8 BTJ Aceh sebanyak 212 orang.
Haji adalah panggilan suci—panggilan yang tidak semua orang mampu menjawabnya. Ia bukan hanya perjalanan menuju Ka’bah, tetapi perjalanan pulang menuju fitrah, menuju hati yang bersih, menuju jiwa yang tunduk sepenuhnya kepada Allah SWT.
Maka pada hari ini, di bawah lantunan doa dan sentuhan adat yang penuh makna, para calon jamaah haji dilepas bukan hanya dengan harapan, tetapi dengan cinta yang tulus dari seluruh masyarakat. Semoga setiap langkah mereka dicatat sebagai ibadah, setiap lelah menjadi penghapus dosa, dan setiap doa menjadi cahaya yang menerangi jalan pulang.
Selamat menunaikan ibadah haji. Semoga menjadi haji yang mabrur—yang pulang tidak hanya membawa cerita, tetapi juga membawa perubahan, kebaikan, dan keberkahan bagi dunia.( Hendra)






.jpg)



