Kegiatan yang berlangsung di lingkungan SDN Warnasari ini dihadiri oleh Pengawas Kecamatan Citangkil, Ketua K3S Kecamatan Citangkil, Kepala SDN Warnasari selaku narasumber, para guru, serta perwakilan komite dan paguyuban sekolah. Seminar ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan pendidikan dan pelatihan (diklat) yang telah diikuti Kepala SDN Warnasari selama 10 hari.
Dalam sambutannya, Ketua K3S Kecamatan Citangkil, Milhah, M.Pd, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia berharap kepemimpinan yang kuat dari kepala sekolah dapat mendorong kualitas guru dan siswa menjadi lebih baik.
“Dengan kepala sekolah yang hebat, guru yang hebat, tentu akan melahirkan siswa-siswi yang hebat. Pendidikan itu bukan hanya hasil, tetapi proses yang dijalani,” ujarnya.
Sementara itu, Pengawas Kecamatan Citangkil, H. Musfikoh, M.Pd, yang sekaligus membuka acara, menegaskan pentingnya penanaman karakter kepada peserta didik, terutama kepedulian terhadap lingkungan. Menurutnya, tema yang diangkat sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini.
“Seminar ini adalah kelanjutan dari diklat yang telah diikuti kepala sekolah. Mari kita ikuti dengan baik dan implementasikan, terutama dalam membangun karakter anak yang peduli lingkungan,” tuturnya.
Kepala SDN Warnasari, Hairul Uyun, S.Pd., M.Pd, menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi momentum peringatan Hari Kartini, tetapi juga sebagai langkah nyata dalam melakukan transformasi pendidikan di sekolah.
Ia memaparkan bahwa program Re-Desain Kokurikuler “Senyum Bumi” merupakan bagian dari upaya mendukung program pemerintah menuju 7 Pilar Anak Indonesia Hebat. Program ini tidak berhenti pada konsep, tetapi diarahkan menjadi praktik nyata di lingkungan sekolah.
“Kami ingin mengubah pola pikir menjadi budaya pembelajaran yang mendalam. Tidak hanya untuk siswa, tetapi juga untuk 20 guru sebagai garda terdepan perubahan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Hairul Uyun menargetkan adanya integrasi minimal tiga mata pelajaran dalam projek kokurikuler, seperti IPAS, Matematika, dan Seni. Inovasi program ini bertumpu pada tiga pilar utama, yakni inquiry kolaboratif, laboratorium karakter hidup, dan kemitraan mentor ahli.
Ia menambahkan bahwa keterlibatan komite dan paguyuban tidak hanya sebagai pendukung, tetapi juga sebagai mitra aktif yang memiliki keahlian untuk mendampingi siswa secara langsung di lapangan.
“Kami tidak ingin berhenti di seminar ini saja. Program ini harus berlanjut, diselesaikan, dan dievaluasi bersama. Saya tidak bisa berjalan sendiri, butuh dukungan semua pihak,” tegasnya.
Sebagai penutup, ia menekankan bahwa kepemimpinan transformasional adalah tentang keberanian memulai perubahan dari diri sendiri, khususnya bagi tenaga pendidik.
“Harapan kami, melalui ‘Senyum Bumi’, kurikulum tidak lagi sekadar dokumen, tetapi menjadi hidup dan berdampak nyata di SDN Warnasari,” pungkasnya. (Vie)






.jpg)



