Diskusi Berbasis Data Peta
Dalam kunjungan tersebut, Kapolda dan Wenny Lumentut terlihat mengamati secara saksama data teknis melalui sebuah peta lahan berukuran besar yang dibentangkan di lokasi. Diskusi tersebut fokus pada batas-batas wilayah dan status pemanfaatan lahan guna memastikan tidak ada konflik kepentingan di masa depan.
Irjen Pol Roycke Langie menekankan pentingnya transparansi data agar warga merasa aman dan mendapatkan kepastian hukum atas tanah mereka. Kapolda juga mengingatkan agar setiap langkah pengelolaan lahan tetap mengedepankan komunikasi yang baik antara aparat, pemerintah, dan masyarakat.
Pengembangan Lokasi Paralayang
Salah satu poin menarik dalam perbincangan tersebut adalah wacana pembentukan lokasi paralayang. Wenny Lumentut memaparkan pandangannya mengenai potensi geografis wilayah tersebut yang dinilai sangat cocok untuk pengembangan olahraga dirgantara.
"Jika dikelola dengan baik, lokasi ini bukan hanya sekadar lahan biasa, tapi bisa menjadi aset pariwisata yang membangkitkan ekonomi warga sekitar melalui paralayang," ujar salah satu pihak dalam diskusi tersebut.
Komitmen Kamtibmas dan Kesejahteraan
Kapolda Sulut menyatakan dukungannya terhadap rencana-rencana positif yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, selama hal tersebut berjalan beriringan dengan pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).
Warga yang hadir menyambut baik kehadiran kedua tokoh tersebut. Mereka berharap koordinasi ini menjadi awal dari penyelesaian masalah lahan yang transparan sekaligus pembuka peluang ekonomi baru di Minahasa.
Poin-Poin Utama Berita:
- Transparansi: Penggunaan peta lapangan untuk verifikasi data secara langsung bersama warga.
- Sinergi: Kolaborasi antara Polri (Kapolda) dan tokoh masyarakat (Wenny Lumentut).
- Inovasi: Wacana pengembangan pariwisata berbasis olahraga (paralayang) sebagai solusi ekonomi
- Humanis: Pendekatan dialogis untuk menyerap aspirasi warga di lokasi secara langsung.
(Edwin Sakul)





.jpg)



