Kehadiran para Polwan di tengah pengungsian ini membawa suasana berbeda. Di tengah keterbatasan fasilitas akibat banjir, mereka mengajak anak-anak bermain, bernyanyi, hingga bercerita guna mengalihkan rasa takut dan jenuh selama berada di tempat evakuasi.
Kapolres Pekalongan AKBP Rachmad C. Yusuf, S.I.K. M.Si menyampaikan bahwa bencana banjir tidak hanya berdampak pada kerugian materiil, tetapi juga menyisakan trauma psikis bagi para penyintas.
"Kami menerjunkan personel Polwan khusus ke lokasi pengungsian di Desa Sipait dengan misi kemanusiaan. Fokus utamanya adalah memberikan psiko sosial kepada warga, terutama anak-anak, agar mental mereka tetap terjaga meski sedang dalam situasi sulit di pengungsian," ujarnya.
AKBP Rachmad menjelaskan bahwa anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan mengalami stres saat terjadi bencana alam. Perubahan lingkungan yang drastis dan hilangnya kenyamanan rumah seringkali membuat mereka merasa cemas.
"Polwan kami hadir untuk mengembalikan senyum mereka. Melalui pendekatan yang humanis, anak-anak diajak bergembira agar beban psikologis mereka berkurang. Kami ingin mereka tetap merasa aman dan nyaman walau berada jauh dari rumah," tambahnya.
Selain memberikan hiburan dan motivasi, personel Polwan juga melakukan pendampingan kepada para ibu di pengungsian untuk mendengarkan keluh kesah mereka selama masa tanggap darurat. Layanan ini menjadi bagian dari upaya menyeluruh Polres Pekalongan dalam menangani dampak banjir dari sisi non-teknis.
"Ini adalah wujud kehadiran Polri di tengah masyarakat. Kami tidak hanya fokus pada evakuasi fisik dan penyaluran logistik, tetapi juga sisi kesehatan mental warga. Kegiatan ini akan terus dilakukan secara berkala di beberapa titik pengungsian lainnya," pungkas Kapolres.
Hingga Sabtu sore, puluhan anak di posko pengungsian Desa Sipait tampak antusias mengikuti berbagai permainan yang dipandu oleh tim Polwan. Harapannya, dukungan psiko sosial ini dapat mempercepat proses pemulihan warga pascabencana.
(Riki)























