Bertempat di Dusun Umatawu, Jumat, (30/1/2026) BUM Desa Sina Rua Bersinar secara resmi menyalurkan Sarana dan Prasarana Produksi Pertanian (Saprodi) kepada Kelompok Tani Popowolot, Kelompok Tani Kajowair dan Kelompok Tani Maju Bersama.
Penyaluran Saprodi ini merupakan tindaklanjut dari perjanjian kerjasama ketahanan pangan antara BUM Desa Sina Rua Bersinar bersama ketiga kelompok tani terkait budidaya jagung hibrida bisi 18 sekaligus menandakan dimulainya pelaksanaan program ketahanan pangan di Desa Natakoli.
Sebagai pelaksana operasional, setelah menerima Saprodi, kelompok tani akan segera memulai aktifitas budidaya di lapangan mulai dari pembersihan lahan, pengolahan, penanaman hingga pemanenan.
Selain pengurus BUM Desa dan kelompok tani. Turut hadir, Sekretaris Desa Natakoli, Kepala Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Mapitara, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Pertanian dan Pendamping Desa serta para pemilik lahan yang akan menyewakan lahannya kepada BUM Desa.
Saprodi yang disalurkan berdasarkan permintaan dari kelompok tani melalui surat permohonan yang ditujukan kepada BUM Desa berupa peralatan, perlengkapan dan obat-obatan pertanian.
Antara lain, alat semprot, mesin pemotongan rumput, cangkul, penggaruk rumput, parang dan herbisida. Selain itu, BUM Desa juga melakukan sewa lahan untuk digunakan oleh kelompok tani Popowolot dan kelompok tani Maju Bersama.
Direktur BUM Desa Sina Rua Bersinar, Epilius Dasentis, SP, dalam sambutan pembukaan mengatakan, melalui program ketahanan pangan, antara BUM Desa dan kelompok tani harus terjalin kerjasama yang baik.
"Hari ini kami menyalurkan Saprodi, kami berharap, antara BUM Desa dan kelompok tani harus terjalin kerjasama yang baik", ungkapnya.
Proses konsolidasi di lapangan untuk mendapatkan mitra kerja sama, kata Epilissus, membutuhkan waktu yang sangat lama, namun patut disyukuri karena pada akhirnya bisa direalisasikan pada hari ini.
" Proses konsolidasi di lapangan untuk mendapatkan mitra kerja sama membutuhkan waktu yang sangat lama, namun patut disyukuri karena akhirnya dapat direalisasikan pada hari ini", ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya optimalisasi waktu kerja dan pemanfaatan lahan secara maksimal agar hasil pertanian dapat terus meningkat. BUM Desa, lanjutnya, akan terus membantu kebutuhan para petani sesuai dengan kemampuan dan ketersediaan modal yang dimiliki.
"Kami berharap kelompok tani memanfaatkan waktu kerja dengan baik dan memanfaatkan lahan secara maksimal agar hasil pertanian meningkat. Kami akan terus membantu petani sesuai dengan kemampuan dan ketersediaan modal yang ada", tambahnya.
Pendamping Desa Kecamatan Mapitara, Silvester Moan Nurak, menjelaskan, dalam skema bagi hasil, BUM Desa bertindak sebagai pengelola utama, fasilitator, dan pemasar hasil produksi pangan lokal.
Sebagai pengelola utama, BUM Desa menerima modal dari Dana Desa untuk membiayai usaha ketahanan pangan, seperti budidaya tanaman pangan, ternak, atau perikanan.
Sedangkan sebagai fasilitator, BUMDes bermitra dengan kelompok tani atau warga setempat dalam bentuk bagi hasil, di mana BUM Desa menyediakan sarana produksi (saprodi) dan masyarakat melakukan budidaya.
"Peran BUM Desa bertindak aktif menjembatani, mengelola, dan memfasilitasi sarana serta prasarana produksi seperti benih, pupuk bagi petani", jelasnya.
Disebutkan, dalam program ketahanan pangan, BUM Desa harus memastikan adanya keuntungan ekonomis yang kembali ke Desa (PADes) sambil meningkatkan kualitas hidup dan ketersediaan pangan masyarakat secara mandiri.
"Yang mau dicapai ada dua, pertama, keuntungan ekonomis yang kembali ke Desa (PADes), kedua, meningkatkan kualitas hidup dan ketersediaan pangan masyarakat secara mandiri. Ketersediaan pangan secara mandiri artinya, untuk memenuhi kebutuhan pangan, kita mampu memproduksi pangan sendiri ", jelasnya.
Dikatakan, posisi BUM Desa bukan sekadar menyediakan modal usaha budidaya, tetapi juga memastikan operasional berjalan dengan baik, hasil panen maksimal, dan keuntungan dibagi secara transparan.
"Jadi posisi, BUM Desa di sini selain menyediakan dana modal untuk budidaya tetapi juga memastikan oprasional di lapangan berjalan baik, hasil panen meningkat dan hasil panen dibagi secara transparan. Misalnya, bersama PPL Pertanian memberikan pendampingan bagi petani",u ujarnya.
Lebih lanjut, saat ini Dana Desa mengalami penurunan, Di mana, Desa Natakoli di tahun 2026 hanya mendapatkan Dana Desa sebesar Rp. 320.000.000.
"Kebijakan pembangunan Desa saat ini mengarah langsung kepada peningkatan ekonomi masyarakat. Melalui, BUM Desa dengan program ketahanan pangannya dan Koperasi Desa Merah Putih", bebernya.
Hal senada, Kepala BPP Pertanian Kecamatan Mapitara, Kasianus Ade Manuhutu, berharap semua pihak menjaga kekompakan dan kerjasama agar kegiatan berjalan lancar guna peningkatan ekonomi.
"Tujuan utama adalah peningkatan ekonomi, yang perlu diperhatikan adalah kekompakan, kerjasama dan kemauan untuk bekerja", ujarnya.
Ia meminta, baik BUM Desa, kelompok tani maupun semua pihak yang berperan di dalamnya menjalin komunikasi dan saling memberikan informasi demi kepentingan pendampingan di lapangan.
"Kami berharap adanya komunikasi dan saling memberi informasi demi kepentingan pendampingan kami di lapangan", harapnya.
Setelah penandatanganan Berita Acara Serah Terima dilanjutkan penyerahan secara simbolik dari unsur pemerintah Desa Natakoli, BPP Pertanian, PPL Pertanian, Pengurus BUM Desa dan Pendamping Desa kepada perwakilan kelompok tani.
Dalam Berita Acara dicantumkan uraian kebutuhan, volume dan harga satunya demi menjamin transparansi penggunaan anggaran.
Persemian Pelaksanaan Program Ketahanan Pangan
Pada kesempatan yang sama dilangsungkan upacara peresmian dimulainya pelaksanaan program ketahanan pangan di Desa Natakoli oleh Pemerintah Desa.
Mewakili pemerintah Desa, Sekretaris Desa Natakol, Florida Dua Bura, meminta agar semua pihak yang terlibat kegiatan budidaya mampu bekerja sama dengan baik serta memperhatikan aspek keberlanjutan demi memajukan Desa Natakol.
"Kita dapat bekerja sama, kita dapat memajukan BUM Desa kita, memajukan Desa kita, jangan terhenti hanya sampai sekarang", ungkapnya.
Ia kembali mengingatkan bahwa program ketahanan pangan kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Di mana, sebelumnya hanya sekedar memberikan bantuan kepada orang per orangan.
Namun, kali ini, ungkap Florida, kegiatan ketahanan pangan harus benar-benar dikerjakan secara berkelompok. Dengan demikian, urusan keberhasilan menjadi tanggungjawab bersama di dalam kelompok.
"Program ini tidak seperti sebelumnya, kemarin itu, kita tidak lagi bantu ke orang per orang, tetapi kita kerja di kelompok, berhasil dan gagal itu menjadi tanggung jawab kelompok", tegasnya.
Upacara peresmian ditandai dengan pengerukan mata cangkul dan disambut dengan tepukan tangan dari seluruh peserta yang hadir.
"Melalui acara penyerahan Sarana dan Prasarana Pertanian atau Saprodi dari BUM Desa Sina Rua Bersinar Kelompok kelompok tani Popowolot, kelompok tani Kajowair dan kelompok tani Maju Bersama, atas nama pemerintah Desa Natakoli kami meresmikan dimulainya pelaksanaan program ketahanan pangan di Desa Natakoli tahun anggaran 2025", pungkasnya.
(TPP)




