Pimpinan Radio Sonya Manis Bireuen, Sukirman Sulaiman, mengungkapkan bahwa sejak Indonesia merdeka, perhatian pemerintah terhadap radio lokal, khususnya dalam bentuk bantuan dana hibah, hampir tidak pernah dirasakan. Ironisnya, sejarah mencatat bahwa radio pernah menjadi ujung tombak perjuangan bangsa, seperti peran Radio Rimba Raya yang mengabarkan kemerdekaan Indonesia ke dunia internasional.
“Radio bukan sekadar alat komunikasi, melainkan jembatan harapan dan penyambung suara rakyat,” ujar Sukirman dengan nada penuh harap. Ia mengenang masa kejayaan radio ketika era pemerintahan Presiden Soeharto, di mana para pimpinan radio dari seluruh Indonesia pernah diundang ke Istana Negara, sebuah bentuk penghargaan tinggi terhadap peran strategis radio kala itu.
Namun seiring berjalannya waktu, perhatian tersebut perlahan memudar. Banyak radio lokal kini mati suri akibat minimnya dukungan, baik dari pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat. Radio Sonya Manis pun tidak luput dari kondisi tersebut—terbatasnya fasilitas, peralatan yang menua, serta perizinan yang telah lama tidak diperbarui menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi.
Padahal, peran radio tetap relevan hingga hari ini. Dalam situasi darurat seperti bencana alam, radio mampu menjadi media tercepat dalam menyampaikan informasi penting kepada masyarakat, termasuk membantu menemukan anggota keluarga yang terpisah atau memberikan kabar kondisi terkini di lapangan.
Kini, Sukirman menggantungkan harapan besar kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto agar dapat memberikan perhatian lebih terhadap keberlangsungan radio lokal. Ia berharap adanya bantuan dana hibah untuk perbaikan infrastruktur dan peralatan, serta kemudahan dalam pengurusan kembali izin operasional yang telah mati.
“Jika suara radio ini padam, maka hilang pula satu ruang bagi masyarakat untuk didengar dan mendengar. Jangan biarkan sejarah yang pernah berjasa itu tenggelam dalam diam,” tutupnya.
Dalam sunyi yang kian mendalam, Radio Sonya Manis masih bertahan—menunggu uluran tangan, menanti kepedulian, dan berharap suaranya kembali menggema. Sebab sejatinya, selama masih ada yang mau mendengar, harapan itu tidak akan pernah benar-benar hilang.
( Hendra)





.jpg)



