Sebelumnya, Pemkab Lampung Timur melalui Kabag Tata Pemerintahan Arista telah bertemu dengan A. Zzohiri, S.P., Pengiran Penyimbang Agung sekaligus anggota MPAL, guna menyerap masukan terkait penggunaan simbol siger yang dinilai belum sesuai pakem adat Jurai Siwo Migo.
Hasil koordinasi tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan revisi desain logo. Namun demikian, perubahan itu belum sepenuhnya meredam perdebatan di tengah masyarakat.
Sorotan utama dalam polemik ini kini mengerucut pada penggunaan simbol siger dalam desain logo. Sejumlah tokoh adat menilai adanya ketidaktepatan dalam penempatan dan pemaknaan siger, yang secara filosofi merupakan mahkota perempuan Lampung.
Dalam desain logo yang beredar, siger justru digambarkan menyatu atau digunakan pada elemen hewan, yakni gajah. Hal ini dinilai tidak sesuai dengan nilai adat, karena siger memiliki makna sakral sebagai simbol kehormatan perempuan Lampung, bukan atribut yang dapat dipadukan secara bebas dengan simbol lain.
Konfirmasi juga dilakukan kepada Hj. Huzaimah Azwar Hadi, Ketua Mighul Lampung Bersatu . Dalam komunikasi via WhatsApp singkat, ia turut menyoroti hal tersebut.
“Itu siger mahkota kami perempuan Lampung, kenapa jadi dipasang begitu. Angka 27 sudah bagus, tapi jangan ada cula badak dan gajah itu,” ungkapnya, (Kamis, 2/4/2026).
Ia juga menilai bahwa secara desain angka 27 sudah cukup representatif, namun penempatan simbol siger perlu diperhatikan agar tetap sesuai dengan nilai dan makna adat.
“Di atasnya sudah ada angka 27 didesain bagus, di atasnya siger baru bagus,” tambahnya.
Menurutnya, persoalan simbol adat harus disikapi dengan hati-hati dan tidak menghilangkan makna filosofis yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Di sisi lain, pemerintah daerah menegaskan bahwa logo yang beredar saat ini masih dalam tahap uji kelayakan publik, sehingga berbagai kritik dan saran masih akan menjadi bahan evaluasi sebelum ditetapkan secara final.
Dengan kondisi tersebut, polemik logo HUT ke-27 Lampung Timur kini masih terus menjadi perbincangan publik, dengan harapan dapat menghasilkan simbol yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga sesuai dengan nilai-nilai adat dan budaya masyarakat Lampung Timur.
(Iman)






.jpg)



