Orang hari menghendaki mobilitas yang cepat, memuja efisiensi yang seringkali meminggirkan manusia. Jadilah abang becak gowes berupaya sekuat sumber daya yang ada, menempelkan motor yang satu-satu ke becaknya sebagai bentuk perlawanan sunyi terhadap keterasingan.
Modifikasi darurat itu adalah sebuah metafora getir: ketika otot manusia tak lagi mampu mengejar laju pembangunan, mesin pun dipaksa menjadi penyambung nasib agar dapur tetap mengepul di tengah kerasnya kota.
Namun, bukankah pembangunan seharusnya menjadi jalan bagi mereka untuk melaju, bukan justru memaksanya melakukan "jurus bertahan" yang berisiko? Kehadiran Pak Joko Widodo di tanah Lampung hari ini adalah momentum yang tepat untuk menoleh ke bawah. Di balik gemerlap kunjungan kenegaraan, ada rintih yang tertahan di kursi-kursi penumpang yang kosong, mengharapkan kebijakan yang tidak hanya memoles jalanan, tetapi juga memanusiakan pelakunya.
Kami, BARA JP DPD Lampung, membawa gelisah ini melalui PSI, sebagai jembatan bagi suara yang tak tersuarakan. Jangan biarkan becak-becak ini hanya menjadi hiasan nostalgi yang dianggap sampah kota. Mereka adalah bagian dari denyut nadi ekonomi rakyat kecil yang membutuhkan perhatian, perlindungan, dan akses untuk tetap bisa berdaya di tengah ekosistem yang menuntut digitalisasi tanpa henti.
Di bawah langit Lampung yang sedang menyambut pemimpinnya, biarlah catatan ini menjadi pengingat bahwa kemajuan suatu bangsa tidak diukur dari seberapa cepat kita berlari, melainkan seberapa peduli kita pada mereka yang tertatih di pinggir jalan. Semoga geliat "becak bermotor" ini bukan sekadar upaya bertahan hidup, melainkan sebuah sinyal bahwa rakyat kecil masih menaruh harapan besar pada janji keadilan sosial yang merata.
(Imn)







.jpg)



