Jalan ini bukan sekadar jalur biasa—ini adalah satu-satunya akses darat utama menuju Tanjung Redeb. Setiap hari, ratusan kendaraan roda dua maupun roda empat melewatinya untuk keperluan vital: berobat, berdagang, sekolah, hingga urusan pemerintahan. Tidak ada jalur alternatif yang bisa digunakan jika jalan ini terputus total.
Para pengendara yang terpaksa melintas mengaku tidak pernah merasa aman. Kerusakan yang bertambah parah setiap hari memicu pertanyaan keras yang terus terucap di mulut warga:
Setiap hari makin rusak, kami lewat selalu was-was takut tergelincir atau jalan ambles mendadak. Pertanyaan kami sederhana: apakah harus ada korban jiwa atau kecelakaan besar dulu baru pihak berwenang mau bertindak? Kasihan kami, jalan ini tulang punggung pergerakan kami ke Tanjung Redeb, tidak ada jalan lain."
Hingga saat ini, belum terlihat ada upaya penanganan serius, peninjauan teknis, apalagi perbaikan dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Kalimantan timur selaku pemegang kewenangan.
Masyarakat menegaskan: jika dibiarkan terus, kerusakan akan cepat meluas, memutus akses vital ekonomi dan sosial, serta sangat berpotensi menimbulkan korban jiwa yang sebenarnya bisa dicegah. Warga mendesak agar instansi terkait segera turun tangan, jangan menunggu nyawa melayang baru bergerak.
(Rahman)






.jpg)



