Forum rembug stunting bukan sekadar agenda rutin, melainkan wadah diskusi strategis merumuskan langkah bersama mengatasi masalah gizi dan tumbuh kembang anak. Setiap masukan yang lahir nantinya akan disusun menjadi program kegiatan prioritas dalam Rencana Kerja Pemerintah Desa untuk tahun anggaran berikutnya.
Melalui perjumpaan ini, pemerintah desa bersama masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, petugas kesehatan, dan kader bergerak dalam semangat gotong royong yang sama. Sinergitas lintas elemen dibangun untuk membentuk benteng pertahanan kokoh mencegah dan menangani stunting secara terpadu di Desa Natakoli.
Musyawarah dipimpin langsung oleh Penjabat Kepala Desa Natakoli, Marius Maryanto, SE. Turut hadir Kepala Puskesmas Mapitara, perangkat desa, tenaga kesehatan, Kader Pembangunan Manusia, kader posyandu, Pendamping Desa, mahasiswa KKN Unipa Maumere, tokoh masyarakat, serta perwakilan kelompok sasaran.
Dalam arahannya, Marius menekankan pentingnya mengawali pencegahan sejak fase paling awal, yakni dari kelompok remaja lewat optimalisasi Posyandu Remaja. Perhatian ini disambung secara konsisten kepada ibu hamil agar pemantauan kesehatan janin berjalan maksimal sejak awal kehamilan.
“Pencegahan harus dimulai sejak dini, mulai dari remaja hingga ibu hamil agar pemantauan berjalan maksimal sejak awal,” ujarnya.
Langkah penanganan terpadu mencakup pelayanan Posyandu bayi dan balita, peningkatan kesehatan ibu dan anak, konseling gizi, hingga perlindungan sosial. Seluruh sektor diajak bergerak selaras, sebab keberhasilan menangani stunting adalah jembatan menuju generasi yang sehat dan tangguh.
Penjabat Kepala Desa menegaskan komitmen mengawal konvergensi penanganan stunting sebagai salah satu program prioritas yang dianggarkan dari Dana Desa. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat bekerja bahu-membahu demi masa depan anak-anak Natakoli.
“Konvergensi penanganan stunting adalah prioritas Dana Desa. Mari kita bersatu bekerja sama demi masa depan anak-anak kita,” tegasnya.
Pendamping Desa Natakoli, Silvester Moan Nurak, menjelaskan rembug stunting ini merupakan bagian tak terpisahkan dari penyusunan perencanaan desa tahun 2027. Kegiatan ini merujuk pada Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 sebagai landasan hukum pelaksanaan di tingkat desa.
Silvester menguraikan poin pertama mengenai sasaran konvergensi yang meliputi remaja putri, ibu hamil, bayi usia 0–23 bulan, anak usia 24–59 bulan, calon pengantin, pasangan usia subur, hingga pemenuhan sanitasi dan air bersih bagi keluarga berisiko.
Poin kedua menjelaskan adanya intervensi spesifik oleh tenaga kesehatan menangani penyebab langsung, serta intervensi sensitif oleh lintas sektor di luar kesehatan menangani penyebab tidak langsung. Poin ketiga menegaskan seluruh upaya wajib terintegrasi di bawah koordinasi Kader Pembangunan Manusia.
“Ketiga poin ini menjadi pedoman utama kita bekerja secara terpadu, tidak bisa berjalan sendiri-sendiri,” ungkapnya.
Materi edukasi gizi disampaikan Bidan Desa Natakoli, Maria Rosaria In Novenalis, S.Tr.Keb. Ia menerangkan stunting bermula dari kekurangan gizi kronis pada periode emas 1.000 Hari Pertama Kehidupan, terhitung sejak awal kehamilan hingga anak berusia 23 bulan.
Periode ini sangat menentukan perkembangan otak dan fisik anak. Jika asupan gizi kurang saat hamil dan tidak diiringi ASI Eksklusif usia 0–6 bulan, anak berisiko mengalami gangguan tumbuh kembang, keterlambatan bicara dan berjalan, hingga bertubuh kerdil.
“Periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan sangat menentukan. Pemenuhan gizi saat hamil dan ASI Eksklusif adalah kunci utama,” jelasnya.
Kader Pembangunan Manusia, Tessya, melaporkan hasil pemantauan tujuh paket layanan di lapangan. Sebagian besar kelompok sasaran sudah terjangkau, namun masih perlu ditingkatkan akses informasi serta keterlibatan lintas sektor.
“Sebagian besar sasaran sudah terjangkau, namun masih perlu ditingkatkan akses informasi dan keterlibatan semua pihak,” pungkasnya.
Kegiatan dilanjutkan diskusi kelompok terarah yang dipandu KPM bersama Bidan Desa Natakoli. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok untuk memetakan masalah nyata, mengenali potensi wilayah, dan merumuskan solusi yang tepat.
Kelompok pertama mengkaji layanan bagi remaja putri, ibu hamil, bayi, balita, calon pengantin, dan pasangan usia subur. Kelompok kedua membahas layanan keluarga berisiko, sanitasi, serta ketersediaan air minum. Kelompok ketiga menelaah perlindungan sosial dan pelayanan PAUD.
Rangkaian acara ditutup rapat pleno untuk menyatukan seluruh rumusan hasil diskusi. Seluruh peserta akhirnya menyepakati usulan program konvergensi yang akan dimasukkan ke dalam Rencana Kerja Pemerintah Desa tahun anggaran berikutnya.






