• Jelajahi

    Copyright © Metronewstv.co.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Sports

    Takwa Bekal Terbaik Kehidupan, Syukur Nikmat dan Salat Menjadi Jalan Persiapan Menuju Akhirat

    Friday, August 28, 2026, 13:55 WIB Last Updated 2026-08-29T04:21:56Z

    LANGKAT - Takwa merupakan salah satu bekal terpenting bagi setiap muslim dalam menjalani kehidupan. Takwa bukan sekadar menjalankan perintah agama, tetapi juga kesadaran bahwa setiap langkah, perkataan, dan perbuatan senantiasa berada dalam pengawasan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

    Dengan ketakwaan, seorang muslim diharapkan mampu menjalani kehidupan dengan penuh kehati-hatian, mensyukuri setiap nikmat yang diberikan Allah, serta mempersiapkan diri untuk kehidupan yang kekal di akhirat.


    Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 197:


    “Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”


    Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa sebanyak apa pun harta dan kenikmatan dunia yang dimiliki manusia, pada akhirnya yang menjadi bekal menuju kehidupan akhirat adalah ketakwaan dan amal kebaikan.


    Ketakwaan juga mengajarkan manusia untuk tidak berlebihan dalam mengkhawatirkan persoalan rezeki. Setiap makhluk yang hidup telah memiliki rezeki yang dijamin oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


    Hal itu sebagaimana firman Allah dalam Surah Hud ayat 6:


    “Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.”


    Dalam sebuah kisah yang dikenal dalam nasihat keagamaan, Nabi Ibrahim Alaihissalam disebut semakin yakin terhadap jaminan rezeki Allah setelah menyaksikan kehidupan seekor makhluk yang berada di dalam batu yang keras.


    Kisah tersebut menjadi pelajaran bahwa manusia tidak perlu meragukan kekuasaan Allah dalam memberikan rezeki kepada setiap makhluk-Nya.


    Selain bertakwa, seorang muslim juga dituntut untuk senantiasa bersyukur. Nikmat Allah tidak selalu berbentuk harta, jabatan atau kemewahan. Kesehatan, kesempatan hidup, keluarga, waktu, kemampuan berjalan, melihat, mendengar, hingga kesempatan beribadah merupakan nikmat yang sering kali baru dirasakan nilainya ketika mulai kehilangan.


    Dalam sebuah nasihat yang masyhur disebutkan bahwa orang yang tidak mampu mensyukuri nikmat kecil akan sulit mensyukuri nikmat yang besar.


    Karena itu, setiap nikmat yang diterima hendaknya disyukuri dan digunakan untuk melakukan kebaikan.


    Nasihat Sayidina Umar bin Khattab juga mengingatkan manusia agar tidak menunda-nunda kebaikan.


    “Ketika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunda-nunda untuk berbuat kebaikan hingga sampai di sore hari.”


    Beliau juga mengingatkan agar manusia memanfaatkan waktu luang sebelum datang kesibukan dan menggunakan masa muda sebelum datang masa tua.


    Pesan tersebut sangat relevan dalam kehidupan. Sebab, waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali. Masa muda akan berganti menjadi tua, kesehatan dapat berubah menjadi kelemahan, dan kesempatan hidup pada akhirnya akan berakhir.


    Banyak manusia baru menyadari betapa berharganya sebuah nikmat setelah nikmat tersebut diambil oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


    Orang yang masih muda terkadang tidak menyadari betapa berharganya kesehatan dan kekuatan. Namun, ketika usia mulai senja, barulah seseorang memahami bahwa masa muda merupakan kesempatan besar untuk memperbanyak amal dan berbuat kebaikan.


    Al-Qur'an juga menggambarkan penyesalan manusia ketika berada di akhirat. Mereka berharap dapat dikembalikan ke dunia agar bisa beramal saleh. Namun, kesempatan tersebut telah berakhir dan tidak mungkin kembali.


    Karena itu, selagi masih diberikan kehidupan, manusia hendaknya menggunakan waktu untuk memperbanyak ibadah, berbuat baik, membantu sesama, serta memperbaiki hubungan dengan Allah dan manusia.


    Kisah Ibrahim bin Adham juga memberikan pelajaran mendalam tentang arti syukur.


    Dikisahkan, Ibrahim bin Adham mendengar seseorang yang terus mengucapkan syukur kepada Allah atas nikmat besar yang diberikan kepadanya. Padahal, orang tersebut tidak memiliki tangan dan kaki.


    Ketika ditanya mengenai rasa syukurnya, orang tersebut menjawab bahwa meskipun tidak memiliki tangan dan kaki, Allah masih menganugerahkan kepadanya hati yang senantiasa bersyukur dan lisan yang senantiasa berdzikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


    Kisah tersebut menjadi tamparan bagi manusia yang memiliki tubuh sempurna dan berbagai nikmat, tetapi masih sering mengeluh dan lupa bersyukur.


    Pada akhirnya, setiap manusia akan menghadapi kematian.


    Harta, jabatan, emas dan perak yang selama hidup dikumpulkan tidak akan dibawa ketika seseorang meninggalkan dunia. Yang menjadi bekal adalah amal ibadah dan amal kebaikan yang telah dilakukan selama hidup.


    Ungkapan “gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang” dapat menjadi pengingat bahwa manusia hendaknya meninggalkan jejak kebaikan selama hidupnya.


    Ketika ajal tiba, kekuatan manusia tidak lagi berarti. Napas berhenti, tubuh terbujur, sementara keluarga dan orang-orang terdekat perlahan meninggalkan tempat pemakaman.


    Pada saat itulah manusia memasuki alam berikutnya dan mempertanggungjawabkan kehidupannya di dunia.


    Salah satu ibadah yang harus mendapatkan perhatian utama adalah salat lima waktu.


    Salat bukan hanya kewajiban, tetapi juga menjadi bagian penting dalam membentuk ketakwaan seorang muslim. Dengan menjaga salat, seorang muslim terus mengingat Allah dan memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri setiap hari.


    Dalam nasihat keagamaan disebutkan bahwa segala sesuatu memiliki penghulunya. Hari memiliki Jumat sebagai penghulu, bulan memiliki Ramadan, dan malaikat memiliki Jibril sebagai penghulu. Begitu pula amal ibadah, salat menjadi salah satu ibadah yang memiliki kedudukan sangat utama.


    Oleh sebab itu, menjaga salat lima waktu hendaknya menjadi komitmen setiap muslim, bukan hanya ketika sedang menghadapi kesulitan, tetapi juga ketika berada dalam keadaan sehat, lapang, dan penuh kenikmatan.


    Pada akhirnya, kehidupan dunia hanyalah sementara. Takwa menjadi bekal, syukur menjadi sikap, amal saleh menjadi investasi, dan salat menjadi salah satu jalan untuk terus mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


    Mari selagi masih diberikan umur, kesehatan dan kesempatan, kita memperbanyak amal kebaikan, mensyukuri setiap nikmat dan menjaga salat lima waktu.


    “Jangan menunggu kehilangan nikmat untuk belajar bersyukur, dan jangan menunggu ajal datang untuk mempersiapkan bekal menuju akhirat.”


    (Adam)

    Komentar

    Tampilkan