Kegiatan keagamaan itu diisi tausiah oleh Tgk. Muhammad Zialhuad dari Tanoh Mirah. Peringatan Maulid tidak hanya menjadi momentum mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi ruang untuk menumbuhkan kembali kecintaan kepada sosok Nabi Muhammad SAW sekaligus menghidupkan keteladanan beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam tausiahnya, Tgk. Muhammad Zialhuad mengajak seluruh jamaah agar tidak menjadikan Maulid Nabi sekadar sebagai sebuah perayaan seremonial. Menurutnya, Maulid seharusnya menjadi momentum untuk semakin mengenal, mempelajari sirah, memahami perjalanan hidup, serta meneladani akhlak mulia Rasulullah SAW.
“Bagaimana cara kita supaya bisa menyukai Nabi Muhammad SAW? Kita belajar tentang sirah dan kisah sejarah Nabi Muhammad SAW, bagaimana beliau lahir, bagaimana kehidupannya dan bagaimana akhlaknya,” tutur Tgk. Muhammad Zialhuad.
Ia menekankan pentingnya mengenalkan sosok Rasulullah SAW kepada generasi muda sejak dini. Anak-anak, katanya, perlu dibimbing untuk mengenal sejarah, perjuangan, kasih sayang, kesabaran dan akhlak Rasulullah SAW sehingga kecintaan kepada Baginda Nabi tumbuh bukan hanya dalam ucapan, tetapi juga tercermin dalam perilaku.
“Kita harus mengenalkan Nabi Muhammad SAW kepada generasi-generasi kita, khususnya anak-anak. Kita ajarkan tentang sirah, sejarah dan kehidupan Rasulullah SAW, sehingga mereka tidak hanya mengenal, tetapi juga tumbuh rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW,” ujarnya.
Menurutnya, meneladani Rasulullah SAW merupakan wujud nyata kecintaan umat kepada beliau.
“Nilai-nilai Nabi Muhammad SAW harus hadir dalam kehidupan kita. Meneladani beliau adalah bagian dari rasa syukur dan kecintaan kita dalam memperingati kelahiran Rasulullah SAW,” imbuhnya.
Keteladanan Rasulullah Harus Menjadi Jalan Kehidupan
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Bireuen H. Ir. Razuardi Ibrahim, M.T., Ketua BKM Tgk. Anwar Hasan, Imum Chiek Tgk. Muhammad Hafiq, Rektor Universitas Almuslim, Rektor UIA, para ulama dan tokoh agama, tokoh masyarakat, insan pers, serta jamaah.
Ketua Panitia Maulid, Tgk. Jamaluddin, S.Pd., M.Kom.I., didampingi Bendahara Jalani, S.Kom., mengatakan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW hendaknya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Lebih dari itu, Maulid harus menjadi momentum untuk menghidupkan kembali akhlak Rasulullah dalam kehidupan bermasyarakat.
“Maulid Nabi bukan sekadar perayaan seremonial, tetapi menjadi pengingat bagi kita untuk meneladani Baginda Nabi Muhammad SAW dalam kejujuran, kesabaran, kasih sayang, kepedulian dan menjaga persaudaraan,” kata Tgk. Jamaluddin.
Ia mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Bireuen untuk terus menjaga persaudaraan, saling menghormati, membantu sesama, serta menjaga kerukunan di tengah perbedaan.
“Saya juga mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Bireuen untuk bersama-sama menjaga suasana keamanan dan ketertiban masyarakat. Mari kita jaga lingkungan kita, hindari perselisihan, tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum tentu benar, dan menyelesaikan setiap persoalan dengan kepala dingin serta mengedepankan musyawarah,” ujarnya.
Tgk. Jamaluddin menambahkan, pembangunan Kabupaten Bireuen membutuhkan dukungan, doa, serta masukan dari para ulama, tokoh masyarakat dan seluruh elemen masyarakat. Karena itu, ia berharap masjid tidak hanya menjadi tempat memperkuat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pendidikan agama, pembentukan karakter generasi muda, serta tumbuhnya kepedulian sosial.
Santunan dan Dzikir Warnai Maulid
Rangkaian peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW 1448 Hijriah di Kecamatan Peusangan juga diwarnai dengan pemberian santunan kepada anak yatim piatu serta fakir miskin. Santunan tersebut menjadi simbol kepedulian dan kasih sayang terhadap sesama, sekaligus bagian dari upaya menghidupkan nilai-nilai sosial yang diajarkan Rasulullah SAW.
Selain tausiah dan santunan, suasana Maulid semakin khidmat dengan lantunan dzikir dari empat grup, yakni Al-Furqan Gampong Raya Dagang, Pesantren Terpadu Almuslim, TPA Ampon Chiek Peusangan, dan Darul Ulum Al-Hikmah Paya Abo.
Kehadiran anak-anak yatim dan fakir miskin dalam kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa keberkahan sebuah perayaan tidak hanya terletak pada kemeriahannya, tetapi juga pada seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan oleh mereka yang membutuhkan.
“Maulid mengajarkan kita bahwa mencintai Rasulullah SAW bukan hanya dengan bershalawat dan mengenang kelahirannya, tetapi dengan menghadirkan akhlaknya dalam kehidupan: menyayangi yang lemah, menguatkan yang kehilangan, memaafkan yang bersalah, serta menjadi cahaya bagi sesama.
Dengan semangat tersebut, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Raya Peusangan diharapkan tidak berakhir ketika acara selesai. Semangat cinta kepada Rasulullah SAW diharapkan terus hidup dalam hati, keluarga, masjid dan kehidupan masyarakat—menjadi cahaya yang menuntun umat untuk senantiasa menebarkan kebaikan, menjaga persaudaraan dan menghadirkan kedamaian.
( Hendra)



%20Narkotika%20Kelas%20IIA%20Muara%20Beliti%20di%20Kabupaten%20Musi%20Rawas.jpg)









