• Jelajahi

    Copyright © Metronewstv.co.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Sports

    Muktamar Al-Khairiyah XI di Cilegon, H. Ali Mujahidin Tekankan Penguatan Akidah Generasi Muda

    Friday, October 16, 2026, 20:36 WIB Last Updated 2026-10-16T13:36:14Z

    CILEGON – Penguatan akidah dan pembinaan akhlak generasi muda menjadi salah satu perhatian utama dalam Muktamar Al-Khairiyah ke-XI yang berlangsung di Gedung Aula Al-Khairiyah, Kota Cilegon, Banten, pada 16–18 Oktober 2026.


    Mengangkat tema “Meneguhkan Akidah, Mengembangkan Syariat, Membangun Akhlak dan Peradaban”, muktamar ini menjadi forum penting untuk merumuskan arah perjuangan organisasi sekaligus menentukan kepemimpinan Pengurus Besar (PB) Al-Khairiyah untuk periode berikutnya.


    Ketua Umum PB Al-Khairiyah, H. Ali Mujahidin, atau H. Mumu menilai perkembangan teknologi informasi, khususnya media sosial, menghadirkan tantangan tersendiri dalam menjaga pemahaman keagamaan generasi muda.


    Menurutnya, tantangan yang dihadapi saat ini tidak lagi terbatas pada perbedaan pandangan dalam persoalan khilafiah. Berbagai konten di media sosial juga dapat memengaruhi cara berpikir generasi muda, termasuk dalam memahami hubungan manusia dengan Tuhan dan pentingnya menjalankan ibadah.


    “Sekarang banyak gangguan dari konten-konten yang beredar di media sosial yang memengaruhi pemikiran generasi. Bahkan, ada yang mulai meragukan keberadaan Tuhan dan mempertanyakan pentingnya ibadah,” ujar Mumu.


    Ia menegaskan, kondisi tersebut perlu direspons melalui penguatan pemahaman agama serta pendekatan komunikasi yang relevan dengan perkembangan zaman. Media sosial, lanjutnya, juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana menyebarkan nilai-nilai keagamaan dan memperkuat akidah masyarakat.


    H. Mumu berharap nilai-nilai perjuangan Al-Khairiyah dapat diterapkan secara berkelanjutan, mulai dari lingkungan individu dan keluarga hingga masyarakat luas. Dengan demikian, nilai-nilai tersebut dapat menjadi landasan dalam membentengi generasi muda dari berbagai pengaruh negatif perkembangan zaman.


    Ratusan Peserta dari 12 Provinsi Hadiri Muktamar

    Muktamar Al-Khairiyah ke-XI diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Mumu menyebutkan, peserta yang hadir berasal dari sekitar 12 provinsi, di antaranya Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Selatan, dan Lampung.


    Melalui forum ini, ia berharap Al-Khairiyah dapat menghasilkan keputusan strategis yang mendukung keberlanjutan organisasi, khususnya dalam bidang pendidikan, keagamaan, serta pembinaan generasi muda.


    Terkait kemungkinan kembali memimpin PB Al-Khairiyah, Mumu menilai regenerasi dan stabilitas organisasi menjadi aspek penting yang perlu dipertimbangkan. Ia juga menyatakan kesiapannya untuk terus memberikan kontribusi bagi organisasi, apa pun jabatan yang nantinya diemban.


    Menurutnya, pemimpin yang terpilih harus mampu menjaga nilai-nilai dasar perjuangan Al-Khairiyah sekaligus membawa organisasi menghadapi berbagai perubahan dan tantangan di masa mendatang.


    Sementara itu, Ketua Pelaksana Muktamar Al-Khairiyah ke-XI, Sayuti, menyampaikan bahwa rangkaian pembukaan kegiatan berjalan lancar meskipun terdapat penyesuaian jadwal pada sejumlah agenda.


    Salah satu perubahan berkaitan dengan rencana kehadiran Menteri Desa yang semula dijadwalkan pada hari pembukaan. Agenda tersebut ditunda karena menteri harus menghadiri rapat terbatas di Istana Bogor.


    “Alhamdulillah, hari ini berjalan lancar. Memang ada sedikit pergeseran jadwal, tetapi itu hal biasa dalam pelaksanaan kegiatan,” kata Sayuti.


    Ia menjelaskan, pembukaan muktamar dihadiri sejumlah undangan dari tingkat nasional hingga daerah. Para undangan tersebut meliputi perwakilan Mahkamah Agung, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Agama, Gubernur Banten, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Cilegon, anggota DPRD, serta para peserta muktamar.


    Sayuti menambahkan, pelaksanaan muktamar direncanakan berlangsung selama tiga hari, yakni pada 16–18 Oktober 2026. Meski demikian, durasi kegiatan tetap menyesuaikan keputusan pimpinan sidang berdasarkan dinamika pembahasan yang berlangsung.


    Mengenai penentuan calon ketua umum dan kepemimpinan organisasi selanjutnya, Sayuti menegaskan bahwa keputusan sepenuhnya berada di tangan peserta muktamar atau mutamirin.


    “Kalau soal calon, saya serahkan sepenuhnya kepada mutamirin. Saya sebagai panitia tidak memiliki hak suara. Mudah-mudahan muktamar ini menghasilkan keputusan terbaik,” ujarnya.


    Harapkan Kepemimpinan Baru Perkuat Perjuangan Organisasi


    Muktamar Al-Khairiyah ke-XI diharapkan tidak hanya menjadi forum pergantian kepemimpinan, tetapi juga momentum untuk memperkuat komitmen organisasi dalam meneguhkan akidah, mengembangkan syariat, serta membangun akhlak dan peradaban.


    Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, Al-Khairiyah diharapkan terus memperkuat perannya dalam pendidikan, pembinaan keagamaan, dan pembentukan karakter generasi muda.


    Melalui keputusan-keputusan yang dihasilkan dalam muktamar, organisasi ini diharapkan mampu menjaga keberlanjutan perjuangan sekaligus beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar yang menjadi landasannya.

    Komentar

    Tampilkan