Puluhan WNI tersebut sebelumnya terjebak bekerja di luar negeri setelah dijanjikan pekerjaan legal dengan iming-iming gaji tinggi. Namun pada kenyataannya, mereka justru dieksploitasi dan dipaksa bekerja dalam jaringan kejahatan siber. Hingga saat ini, seluruh korban telah dipulangkan ke daerah asal masing-masing, di antaranya Sumatra Utara, Bandung, dan Jakarta.
Keberhasilan pemulangan ini merupakan hasil kolaborasi intensif antara Laskar Gibran, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Phnom Penh, otoritas Imigrasi Kamboja, serta dukungan Ketua Laskar Gibran Luar Negeri, sejumlah anggota DPR RI, dan DPRD.
Pemulangan Dilakukan dalam Dua Kloter
Leonardo Sirait menjelaskan, proses repatriasi dilakukan secara bertahap dalam dua kloter, mengingat kompleksitas persoalan administrasi serta keterbatasan biaya transportasi.
“Kondisi para Tenaga Kerja Indonesia saat ini aman dan sehat. Tantangan terbesar di lapangan adalah banyak korban yang kehilangan dokumen identitas. Paspor dan KTP mereka disita oleh perusahaan sindikat, sehingga kami harus mengikuti regulasi ketat Pemerintah Kamboja agar proses deportasi berjalan resmi dan legal,” ujar Leonardo.
Berawal dari Laporan Keluarga dan Aduan Media Sosial
Kasus ini terungkap setelah adanya laporan dari keluarga anggota Laskar Gibran yang meminta bantuan pemulangan kerabat mereka yang telah bekerja di Kamboja selama hampir satu tahun. Selain itu, Laskar Gibran juga menerima banyak aduan langsung melalui pesan pribadi (Direct Message/DM) di akun media sosial resminya.
Para korban mengungkapkan kondisi kerja yang sangat memprihatinkan, mulai dari penyekapan, tekanan psikologis, hingga tidak mendapatkan makanan yang layak. Di sisi lain, Pemerintah Kamboja saat ini juga tengah gencar melakukan penindakan terhadap aktivitas perjudian online ilegal yang melibatkan WNI.
Edukasi Masyarakat: Waspada Iming-Iming Gaji Fantastis
Selain mengawal proses pemulangan, Leonardo Sirait mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap modus perekrutan tenaga kerja ilegal ke luar negeri, khususnya yang menawarkan gaji besar tanpa kejelasan prosedur.
Ia menekankan beberapa poin penting, di antaranya:
- Tidak mudah tergiur gaji tinggi untuk pekerjaan yang tidak membutuhkan keahlian khusus.
- Waspada terhadap konten influencer yang mempromosikan bekerja di Kamboja dengan narasi “mudah dan enak”.
- Menghindari jalur ilegal, termasuk tawaran “berangkat dulu, urusan administrasi belakangan”.
“Banyak WNI berangkat karena melihat video promosi influencer. Padahal mereka hanya dibayar sekali untuk promosi dan tidak bertanggung jawab atas nasib para pekerja di sana,” tegas Leonardo.
Komitmen Lindungi WNI dari Kejahatan Daring
Leonardo juga memprediksi jumlah WNI yang meminta bantuan pemulangan berpotensi terus bertambah seiring dengan meningkatnya keseriusan Pemerintah Kamboja dalam memberantas kejahatan daring.
“Kami akan terus memantau dan berkoordinasi. Fokus kami memastikan tidak ada lagi anak bangsa yang menjadi budak modern di negeri orang. Lebih baik bekerja di tanah air jika keterampilan masih terbatas. Kami berharap saudara-saudara kita yang masih terjebak bisa mendapatkan bantuan secara bertahap dari pemerintah,” pungkasnya.
(Metri)




