Ironisnya, kondisi itu bukan sekadar mengganggu kenyamanan, tetapi juga telah mengancam keselamatan jiwa. Beberapa waktu lalu, seorang guru dilaporkan terjatuh akibat kondisi lingkungan sekolah yang licin dan tergenang air. Peristiwa tersebut nyaris merenggut nyawa. Kejadian itu menjadi tamparan keras bahwa fasilitas pendidikan yang layak bukan lagi kebutuhan sekunder, melainkan hak dasar yang wajib dipenuhi negara.
Lingkungan sekolah yang terus dilanda banjir membuat seluruh aktivitas pendidikan berjalan dalam keterbatasan. Pemandangan sekolah terlihat kumuh, becek, dan jauh dari kata layak sebagai tempat lahirnya generasi penerus bangsa. Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa penanganan serius, maka bukan hanya kualitas pendidikan yang terancam menurun, tetapi juga kesehatan para pendidik dan peserta didik ikut dipertaruhkan.
Kepala UPTD SD Negeri 11 Jeunieb, Junaidi, kepada media ini, Kamis (14/5/2026), berharap adanya perhatian nyata dari pemerintah. Menurutnya, pembangunan paving block di lingkungan sekolah serta rehabilitasi ruang belajar menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Kondisi bangunan sekolah yang sudah tua dan rapuh semakin memperparah situasi, sehingga dikhawatirkan dapat membahayakan keselamatan siswa maupun tenaga pendidik sewaktu-waktu.
Sudah sepantasnya UPTD SD Negeri 11 Jeunieb mendapat perhatian serius dan bantuan nyata dari pemerintah daerah maupun pihak terkait. Pendidikan tidak boleh dibiarkan tumbuh di tengah ketidaklayakan fasilitas. Bagaimana mungkin mutu dan kualitas pendidikan dapat meningkat, jika para siswa harus belajar dalam rasa takut, cemas, dan tidak nyaman setiap hari?
Sekolah bukan hanya tempat belajar membaca dan menulis. Sekolah adalah tempat menanam harapan, membangun cita-cita, dan melahirkan masa depan bangsa. Ketika sebuah sekolah dibiarkan rusak dan terbengkalai, maka yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan adalah masa depan anak-anak negeri ini.
“Anak-anak tidak meminta gedung mewah, mereka hanya ingin tempat belajar yang aman dan layak. Karena pendidikan yang baik lahir dari kepedulian, bukan dari pembiaran.”
( Hendra)






.jpg)



