Salah seorang penerima bantuan PKH yang enggan disebutkan namanya, Selasa (2/6/2026), mengaku kecewa dengan kualitas beras yang diterimanya.
Menurutnya, selama bertahun-tahun menerima bantuan pangan dari pemerintah, baru kali ini ia mendapatkan beras yang dinilai tidak memenuhi harapan masyarakat penerima manfaat.
"Setelah dimasak, rasanya kurang enak dan membuat selera makan menurun. Bahkan sebagian beras yang sudah dimasak terpaksa tidak dikonsumsi hingga akhirnya terbuang sia-sia," ungkapnya.
Ia menjelaskan, sebagian warga terpaksa mencampur beras bantuan tersebut dengan beras lokal agar lebih layak dikonsumsi. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat mengenai standar kualitas beras yang disalurkan kepada penerima bantuan sosial.
Warga berharap pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia dan instansi terkait dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kualitas beras bantuan sebelum didistribusikan kepada masyarakat. Mereka menilai bantuan pangan seharusnya tidak hanya tersedia dalam jumlah yang cukup, tetapi juga memenuhi standar mutu dan kelayakan konsumsi.
Selain itu, masyarakat meminta agar setiap beras yang akan disalurkan terlebih dahulu melalui proses pemeriksaan dan pengawasan yang ketat oleh dinas terkait guna memastikan kualitas, keamanan, dan kelayakannya bagi masyarakat penerima manfaat.
"Bantuan pangan bukan sekadar soal mengisi perut, tetapi juga menjaga kesehatan dan martabat masyarakat yang menerimanya. Beras yang disalurkan kepada rakyat harus memenuhi standar kelayakan konsumsi, karena bantuan yang baik adalah bantuan yang benar-benar bermanfaat, bukan yang akhirnya terbuang sia-sia," ujarnya.
Warga berharap keluhan ini menjadi perhatian serius pemerintah agar kualitas bantuan pangan ke depan dapat lebih baik, sehingga tujuan program bantuan sosial untuk membantu masyarakat yang membutuhkan benar-benar tercapai secara optimal.
"Setiap butir beras adalah harapan bagi keluarga yang membutuhkan. Ketika kualitasnya tidak sesuai harapan, yang terbuang bukan hanya makanan, tetapi juga harapan dan kepercayaan masyarakat terhadap program yang seharusnya menjadi penopang kehidupan mereka."
( Hendra)






.jpg)



