• Jelajahi

    Copyright © Metronewstv.co.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Oku

    Empat Lawang

    Sports

    Perjuangan Terbelah, Tokoh Pemuda Besitang Ajak Bersatu Demi Korban Banjir

    Thursday, July 30, 2026, 11:44 WIB Last Updated 2026-07-31T04:50:11Z

    LANGKAT – Perjuangan yang paling menyedihkan bukanlah ketika berhadapan dengan lawan, melainkan ketika sesama pejuang mulai saling berhadapan.


    Hal tersebut disampaikan oleh tokoh pemuda Besitang, Andika, kepada tim pada Kamis (30/7/2026). Menurutnya, dua oknum berinisial SL dan SA sebelumnya berada dalam satu barisan perjuangan yang sama. Keduanya dikenal vokal dalam memperjuangkan hak korban banjir tahun 2025 di Kabupaten Langkat.


    “Tujuan mereka tidak berbeda, yakni agar bantuan segera direalisasikan dan masyarakat mendapatkan haknya,” ujar Andika.


    Namun, seiring berjalannya waktu, arah perjuangan keduanya mulai berbeda. Andika menjelaskan bahwa SA memilih jalur diplomasi dengan memperjuangkan aspirasi melalui meja perundingan, dengan keyakinan bahwa komunikasi dengan pemerintah akan membuahkan hasil.


    Sementara itu, SL menilai masyarakat sudah terlalu lama hanya disuguhi janji. Karena itu, pada 27 Juli 2026, ia menggerakkan ribuan warga untuk turun ke jalan. Aksi tersebut bahkan sempat menutup Jalan Lintas Aceh–Medan sebagai bentuk desakan agar pemerintah segera mengambil tindakan nyata.


    Perbedaan metode ini kemudian memicu perdebatan di tengah masyarakat. Ada pihak yang menilai aksi lapangan hanya sebagai upaya mencari perhatian, sementara yang lain beranggapan bahwa perundingan selama ini hanya menghasilkan janji tanpa realisasi.


    Menanggapi hal tersebut, Andika menegaskan bahwa kedua cara tersebut seharusnya tidak dipertentangkan.


    “Dalam sebuah perjuangan, selalu ada yang bertugas mengetuk pintu melalui diplomasi, dan ada pula yang menyuarakan tekanan dari lapangan. Dua cara ini bisa saling menguatkan selama tujuannya tetap sama,” jelasnya.


    Ia juga mengingatkan bahwa hal yang paling berbahaya bukanlah perbedaan cara, melainkan ketika ego lebih diutamakan dibanding kepentingan masyarakat. Menurutnya, para korban banjir tidak peduli siapa yang mendapat pujian atau siapa yang paling sering muncul di publik.


    “Yang mereka tunggu hanya satu, yakni hak mereka benar-benar terpenuhi,” tegasnya.


    Di akhir pernyataannya, Andika mengajak semua pihak untuk menghentikan konflik internal dan kembali fokus pada tujuan utama perjuangan.


    “Mari berhenti saling menjatuhkan. Jangan habiskan energi untuk membuktikan siapa yang paling berjasa, sementara rakyat masih menunggu kepastian,” ujarnya.


    Ia menutup dengan pesan bahwa kemenangan sejati bukan terletak pada popularitas, melainkan pada keberhasilan menghadirkan keadilan bagi masyarakat.


    “Bersatulah. Karena yang diperjuangkan bukan nama, melainkan nasib manusia,” tutup Andika.


    (Adam)

    Komentar

    Tampilkan