KUPANG - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mendorong seluruh kepala sekolah SMA dan SMK se-NTT untuk semakin profesional, kreatif, inovatif, serta memiliki jiwa kewirausahaan.
Dorongan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah untuk memastikan proses pendidikan tidak hanya menghasilkan siswa dengan kemampuan akademik yang baik, tetapi juga lulusan yang memiliki keterampilan (skill), karakter kuat, serta kemampuan berwirausaha dan siap menghadapi dunia kerja. Sebagaimana perintah Gubernur dan Wakil Gubernur bahwa ada tiga hal penting yang harus menjadi fokus di Satuan Pendidikan SMA/SMK/SLB yakni Penguatan Karakter, Kemampuan Akademik dan Pengembangan Kewirausahaan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo, menegaskan bahwa kepala sekolah memiliki peran penting dalam membangun lingkungan pendidikan yang mampu mengembangkan berbagai potensi siswa.
Menurut Ambrosius, hasil pendidikan di sekolah tidak boleh hanya diukur dari kemampuan akademik peserta didik, tetapi juga Karakter siswa serta Keterampilan praktis dan kemampuan menciptakan peluang usaha juga harus menjadi bagian dari proses pendidikan.
“Jadi hasil atau output dari proses belajar di sekolah tidak semata-mata meningkatkan kompetensi akademik siswa saja, namun yang terpenting adalah karakter dan keterampilan atau skill siswa. Agar supaya kelak siswa tersebut memiliki kemampuan serta keterampilan selain akademik sebagai bagian dari kemandirian untuk bisa berwirausaha ketika belum melanjutkan studi ke perguruan tinggi,” jelas Ambrosius saat dikonfirmasi melalui telepon WhatsApp, Rabu (12/8/2026).
Ambrosius menjelaskan, setiap sekolah memiliki potensi yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari pembelajaran kewirausahaan. Salah satunya adalah pengelolaan usaha kantin sekolah.
Menurutnya, sejak lama sekolah telah mengajarkan prakarya yang membimbing siswa untuk mampu melihat potensi lokal di sekitar sekolah untuk dioptimalkan melalui upaya menambah nilai, misalnya olahan yg higienis, memenuhi cita rasa sehingga bernilai ekonomi. Pengembangan selanjutnya tentu memanfaatkan fasilitas sekolah atau pun aset sekolah yang di miliki pemerintah daerah. Pemanfaatan aset/fasilitas sekolah untuk kegiatan usaha harus memiliki mekanisme pertanggungjawaban yang jelas sekaligus dapat mendukung pendapatan asli daerah (PAD) Propinsi NTT.
“Tiap-tiap sekolah itu kan ada jasa usaha kantin, unit produksi dan lainnya. dalam pengelolaan nya memanfaatkan aset yang menghasilkan pe dapatan untuk sekolah, maka sekolah pun harus berkontribusi utk PAD yang tentu saja pemanfaatannya utk maintenance aset tersebut. Tiap sekolah dapat menetapkan satu produk untuk menjadi branding kewirausahaannya dan ini juga terkait dengan program Pak Gubernur One School One Product,” jelasnya.
Program tersebut, kata Ambrosius, sejalan dengan upaya mendorong sekolah agar mampu menghasilkan produk yang dapat menjadi bagian dari pembelajaran sekaligus memiliki nilai ekonomi.
Ambrosius menegaskan bahwa profesionalisme seorang kepala sekolah juga harus ditunjukkan melalui kemampuan mengembangkan kewirausahaan di sekolah.
“Salah satu syarat menjadi kepala sekolah adalah Profesional dan indikatornya memiliki jiwa kewirausahaan, sehingga potensi di sekitar lingkungan sekolah itu perlu diberdayakan,” tegasnya.
Ia memberikan contoh, sekolah dapat mengembangkan berbagai kebutuhan siswa menjadi peluang usaha sederhana.
“Misalnya siswa mau beli buku, beli pulpen, belanja makanan ringan tidak jauh dari sekolah kan,” ujarnya.
Selain itu, lahan kosong yang terdapat di lingkungan sekolah juga dinilai dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran berbasis kewirausahaan.
“Potensi lingkungan sekolah yang memiliki lahan kosong, kan bisa diolah untuk ditanami sayur-sayuran, jagung, atau umbi-umbian. Itu bagian dari edukasi bagi siswa dan menanamkan jiwa wirausaha,” katanya.
Menurut Ambrosius, potensi pertanian yang dimiliki NTT seharusnya dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh sekolah sebagai sarana pendidikan bagi siswa.
“Karena potensi daerah kita di NTT adalah pertanian dengan curah hujan itu setiap tahun tiga bulan, sehingga perlu dimanfaatkan. Daripada lahan kosong itu ditumbuhi rumput dan ilalang kemudian guru-guru minta siswa untuk bersih-bersih, kan itu tidak kreatif,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ambrosius menjelaskan bahwa terdapat tiga hal utama yang harus diperkuat oleh sekolah dalam membentuk kualitas peserta didik.
Pertama, karakter siswa yang tangguh. Kedua, kemampuan akademik yang baik. Ketiga, kemampuan kewirausahaan yang mumpuni.
“Jadi ada tiga kebijakan yang perlu dijalankan oleh sekolah, yakni menguatkan karakter siswa yang tangguh, yang kedua kemampuan akademik yang baik dan ketiga adalah kewirausahaan yang mumpuni,” jelasnya.
Ia menilai ketiga aspek tersebut harus berjalan secara seimbang. Pendidikan karakter membentuk pribadi siswa, kemampuan akademik memperkuat pengetahuan, sedangkan keterampilan dan kewirausahaan membekali siswa agar mampu menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan.
Ambrosius juga memberikan peringatan tegas kepada kepala sekolah yang tidak menunjukkan profesionalisme, kreativitas, dan semangat kewirausahaan dalam menjalankan tugas.
“Kepala sekolah yang tidak profesional, tidak kreatif, tidak punya jiwa wirausaha, malas-malasan, masuk sekolah Senin-Kamis, pasti akan dievaluasi,” tegasnya.
Menurutnya, kepala sekolah harus menjadi contoh sekaligus motor penggerak perubahan di lingkungan sekolah. Karena itu, seorang kepala sekolah tidak cukup hanya mampu menjalankan administrasi pendidikan, tetapi juga harus mampu melihat peluang, mengembangkan potensi sekolah, dan menciptakan inovasi yang memberikan manfaat bagi peserta didik.
Kebijakan tersebut diharapkan dapat mendorong SMA, SMK dan SLB di NTT menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter tangguh, keterampilan praktis, serta keberanian untuk menciptakan peluang usaha.
Dengan demikian, ketika siswa menyelesaikan pendidikan dan belum melanjutkan ke perguruan tinggi, mereka tetap memiliki bekal keterampilan yang dapat digunakan untuk memasuki dunia kerja maupun membangun usaha secara mandiri, ujarnya.
(Fabianus Bria)









