• Jelajahi

    Copyright © Metronewstv.co.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Sports

    Polres Bireuen Latih Anggota Jadi Komunikator Publik di Era Digital

    Metronewstv.co.id
    Saturday, September 12, 2026, 15:09 WIB Last Updated 2026-09-12T08:09:14Z

    BIREUEN – Di tengah derasnya arus informasi dan pesatnya perkembangan teknologi digital, tugas kehumasan kepolisian tidak lagi semata-mata berada di pundak satuan Humas. Setiap personel Polri yang berinteraksi langsung dengan masyarakat dituntut memiliki kemampuan menjadi komunikator publik yang cepat, tepat, humanis, beretika, dan bertanggung jawab.


    Semangat tersebut dibangun Polres Bireuen melalui kegiatan pelatihan dan pembelajaran kehumasan yang dilaksanakan secara rutin setiap Sabtu di Aula Mapolres Bireuen, Sabtu (12/9/2026).


    Kegiatan itu diikuti puluhan personel dari berbagai unsur, mulai dari para Kasat, KBO, Kapolsek, Kasi, Bhabinkamtibmas hingga personel Intelijen.


    Dalam pengantar kegiatan, Kapolres Bireuen AKBP Yulhendri, SH, SIK, MIK menekankan bahwa kemampuan mengelola dan menyampaikan informasi merupakan bagian penting dari pelaksanaan tugas kepolisian di era digital.


    Menurutnya, perkembangan teknologi telah mengubah secara drastis cara masyarakat memperoleh sekaligus menyebarkan informasi. Jika dahulu masyarakat harus menunggu berita melalui media cetak atau membaca koran di warung kopi, kini informasi berada dalam genggaman dan dapat menyebar hanya dalam hitungan detik.


    “Dulu kita membaca koran di warung kopi. Sekarang dengan gadget, semua orang bisa mendapatkan informasi sekaligus membuat informasi. Karena itu, anggota harus mampu mencari informasi yang tepat, memahami situasi dan menyampaikan informasi yang benar kepada masyarakat,” ujar Kapolres.


    Ia mengingatkan seluruh personel agar tidak tergesa-gesa menyampaikan informasi yang belum melalui proses verifikasi.


    “Cepat itu penting, tetapi jangan mengorbankan kebenaran. Hati-hati dengan setiap informasi yang kita sampaikan karena satu titik saja di ruang digital bisa menjadi persoalan,” tegasnya.


    Bukan Sekadar Bicara, Tetapi Menyampaikan Kebenaran

    Pelatihan tersebut tidak hanya berhenti pada teori komunikasi. Para personel juga diberikan pemahaman mengenai bagaimana sebuah peristiwa yang terjadi di lapangan dapat dikemas menjadi informasi visual dan narasi yang mudah dipahami masyarakat.


    Dalam kesempatan tersebut, Kapolres Bireuen meminta koresponden Acehsatu.com, Muhammad Idris Albafadel Asahparang, untuk berbagi pengalaman mengenai dunia jurnalistik dan peliputan.


    Diminta tampil secara spontan, Idris mengaku sempat gugup karena kesempatan tersebut datang tanpa persiapan.


    “Saya hanya wartawan modus, modus jadi wartawan yang buat peserta tertawa. Dia masih banyak membutuhkan bimbingan dan bantuan, baik dalam meliput maupun membuat berita. Pekerjaan saya sekarang juga sebagai Pendamping Lokal Desa Kecamatan Gandapura. Jadi saya masih terus belajar,” katanya dengan nada sederhana.


    Pernyataan tersebut mencairkan suasana di tengah peserta sebelum materi utama dilanjutkan oleh Kasat Humas Polres Bireuen AKP M. Nasir, SH.


    Belajar Kamera, Angle hingga Etika Informasi

    AKP M. Nasir membawakan materi bertajuk “Belajar Teknik Visual dan Prinsip Komunikasi Humas, Bekal Penting Sajikan Informasi yang Profesional.”


    Dalam sesi tersebut, para peserta dibekali teknik dasar pengambilan gambar menggunakan smartphone. Mulai dari cara memegang perangkat dengan dua tangan, menempelkan siku pada tubuh, hingga teknik berjalan menggunakan langkah kecil atau ninja walk agar rekaman video menjadi lebih stabil.


    Personel juga diarahkan untuk menghindari penggunaan digital zoom, merekam setiap adegan minimal 5–10 detik, serta mengambil satu peristiwa dari beberapa sudut pandang sehingga tersedia pilihan visual dalam proses penyuntingan.


    Selain teknik pergerakan kamera, peserta diperkenalkan dengan lima jenis angle, yakni Bird Eye, High Angle, Eye Level, Low Angle, dan Frog Angle.


    Pemilihan sudut pengambilan gambar dinilai penting karena bukan sekadar menyangkut keindahan visual. Lebih dari itu, sebuah sudut kamera dapat memengaruhi cara publik melihat dan memahami sebuah peristiwa.


    Sebuah gambar dapat berbicara sebelum satu kata pun diucapkan. Karena itu, kamera bukan hanya alat untuk merekam peristiwa, tetapi juga amanah untuk menyampaikan realitas secara proporsional.


    Humas Harus Prediktif, Responsif dan Transparan

    Lebih jauh, Kasat Humas menekankan bahwa kemampuan teknis visual harus berjalan seiring dengan prinsip komunikasi publik yang profesional.


    Tiga prinsip utama yang ditekankan adalah prediktif, responsibilitas, dan transparansi.

    Prediktif berarti personel harus mampu membaca potensi isu sejak dini sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar atau viral. Responsibilitas menuntut kecepatan dalam memberikan respons maupun klarifikasi terhadap informasi yang berkembang. Sementara transparansi mengedepankan keterbukaan informasi sesuai ketentuan Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik, dengan tetap memperhatikan informasi yang dikecualikan, termasuk rahasia penyidikan.


    Personel juga diingatkan agar tidak sembarangan menyampaikan informasi berkaitan dengan kasus kejahatan seksual, anak, unsur SARA, data sensitif, maupun informasi yang berpotensi mengganggu proses hukum.


    Dalam setiap pemberitaan maupun penyampaian informasi, identitas, keselamatan, serta kepentingan korban harus ditempatkan sebagai prioritas utama.


    Satu Unggahan Bisa Membentuk Persepsi Publik

    Pelatihan tersebut sekaligus menegaskan adanya perubahan besar dalam pola komunikasi kepolisian di era digital.


    Kini, sebuah peristiwa tidak lagi hanya berhenti sebagai laporan internal. Dalam hitungan menit, sebuah kejadian di lapangan dapat berubah menjadi foto, video, narasi, dan informasi yang dikonsumsi oleh ribuan bahkan jutaan orang.


    Karena itu, setiap personel harus memahami bahwa kamera yang berada di tangan anggota juga membawa nama dan tanggung jawab institusi.


    Salah mengambil gambar dapat melahirkan persepsi berbeda. Salah memilih kata dapat menimbulkan kesalahpahaman. Dan informasi yang belum terverifikasi dapat berkembang menjadi persoalan yang jauh lebih besar.


    Di ruang digital, kecepatan memang menjadi kebutuhan, tetapi ketepatan adalah kehormatan. Informasi yang disampaikan dengan tergesa-gesa tanpa kebenaran justru dapat mengikis kepercayaan yang dibangun dengan susah payah.


    Melalui agenda pembelajaran rutin setiap Sabtu, Polres Bireuen berupaya menumbuhkan budaya kehumasan di seluruh lini, bukan hanya di lingkungan satuan Humas.


    Sebab, di era ketika hampir setiap orang memiliki kamera, akses informasi, dan ruang publik dalam genggaman, setiap anggota Polri pada hakikatnya adalah wajah komunikasi institusinya.


    Pada akhirnya, komunikasi publik bukan sekadar tentang seberapa cepat sebuah informasi disampaikan, melainkan tentang seberapa benar, bermanfaat, humanis, beretika, dan bertanggung jawab informasi tersebut ketika sampai kepada masyarakat.


    Sebab kepercayaan publik tidak dibangun hanya dengan kata-kata, tetapi dengan kebenaran yang disampaikan secara konsisten, pelayanan yang dirasakan, serta komunikasi yang lahir dari ketulusan.


    ( Hendra)

    Komentar

    Tampilkan