Kegiatan ini menjadi upaya menghidupkan kembali permainan tradisional di lingkungan sekolah sekaligus memperkuat pendidikan karakter, literasi, numerasi, dan pelestarian kebudayaan lokal di tengah perkembangan teknologi digital.
Kepala Dindikbud Kota Cilegon, Heni Anita Susila, dalam sambutannya di wakili oleh Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar, Suhanda, menyampaikan apresiasi kepada Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) dan kelompok kerja PAUD (PKG) Kota Cilegon atas dukungan dan kolaborasi dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Menurutnya, permainan tradisional bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu luang, tetapi juga mengandung nilai pendidikan. Melalui permainan congklak, anak-anak belajar berhitung, menyusun strategi, bersabar, dan berbagi. Sementara permainan engklek melatih keseimbangan, koordinasi, dan konsentrasi.
“Bermain bukan lawan dari belajar. Bermain merupakan salah satu cara anak belajar memahami kehidupan,” demikian pesan dalam sambutan Kepala Dindikbud Kota Cilegon.
Ia berharap permainan tradisional dapat kembali menjadi bagian dari keseharian anak-anak, baik dalam pembelajaran, aktivitas luar kelas, penguatan karakter, maupun interaksi sosial antarpeserta didik.
Guru juga diharapkan menjadi penggerak GEMBIRA di sekolah masing-masing dengan menerapkan permainan tradisional secara kreatif, berkelanjutan, aman, ramah anak, dan inklusif.
Sementara itu, Ketua Panitia sekaligus Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Nonformal dan Informal (P2PNFK), Vania, mengatakan workshop tersebut diikuti 30 peserta dari jenjang SMP serta 20 guru dari pendidikan formal dan nonformal.
Ia menjelaskan, GEMBIRA merupakan inovasi kolaborasi bidang kebudayaan dan bidang P2PNFK Dindikbud Kota Cilegon untuk mengembalikan permainan tradisional ke lingkungan pendidikan.
“Harapannya, setelah mengikuti workshop ini, para guru dapat menerapkan permainan tradisional di sekolah masing-masing dan menularkan semangatnya kepada anak-anak serta masyarakat,” ujarnya.
Vania menambahkan, Dindikbud Kota Cilegon berencana menerbitkan surat edaran Kepala Dinas dan Wali Kota agar permainan tradisional dapat dilaksanakan secara berkelanjutan. Setiap sekolah juga diharapkan memiliki pojok bermain atau taman permainan tradisional.
Selain itu, pada November 2026 mendatang, Dindikbud Kota Cilegon berencana menggelar perlombaan permainan tradisional tingkat kota sebagai tindak lanjut gerakan tersebut.
Menurutnya, GEMBIRA menjadi salah satu solusi untuk menghadapi pergeseran pola bermain anak di tengah perkembangan teknologi digital, sehingga anak-anak tidak hanya bergantung pada gawai, tetapi juga aktif bergerak, berinteraksi, dan mengenal kebudayaannya.
Melalui GEMBIRA, Dindikbud Kota Cilegon berharap anak-anak tumbuh menjadi generasi yang sehat, cerdas, kreatif, berkarakter kuat, mampu bekerja sama, serta bangga terhadap kebudayaan daerahnya.
Program ini juga diharapkan dapat melibatkan orang tua, komunitas, dan masyarakat agar pelestarian permainan tradisional tidak hanya berlangsung di lingkungan sekolah, tetapi juga berkembang hingga ke wilayah-wilayah di Kota Cilegon. (Vie)


%20Narkotika%20Kelas%20IIA%20Muara%20Beliti%20di%20Kabupaten%20Musi%20Rawas.jpg)









