Langkah ini menjadi tonggak nyata dalam upaya pengembangan budidaya jagung hibrida yang berkelanjutan.
Dalam sambutannya yang penuh semangat, Direktur BUM Desa Sina Rua Bersinar, Epilius Dasentis, SP, menekankan bahwa keberadaan kelompok tani bukan sekadar wadah berkumpul, melainkan sarana untuk menyatukan potensi dan mimpi para petani. Ia berharap kelompok ini menjadi ruang bertukar pikiran yang melahirkan inovasi.
"Kelompok ini diharapkan menjadi wadah untuk bertukar pikiran terkait teknologi pertanian, akses terhadap pupuk dan permodalan, hingga strategi pemasaran hasil panen," ujar Epilius dengan tegas.
Epilius juga mengajak seluruh anggota untuk membuka lembaran baru dengan mengubah pola pikir menjadi lebih maju dan berani.
"Saya mengajak mengubah paradigma berpikir menjadi lebih produktif, misalnya dengan memilih varietas unggul dan merencanakan tanam secara kompak. Dengan semangat gotong royong yang menyala, kita pasti bisa melompat mengatasi segala hambatan dan meraih kesejahteraan bersama yang lebih gemilang," tambahnya dengan optimisme yang menular.
Sementara itu, Ketua BPD Desa Natakoli, Antonius Kreator, dengan bangga menegaskan identitas kelompok tani di desanya sebagai garda terdepan petani jagung. Pemerintah desa menaruh harapan besar agar para anggota mampu berjuang habis-habisan untuk menghasilkan panen yang melimpah.
"Kami dari unsur pemerintahan Desa ingin menegaskan bahwa kelompok tani di Desa Natakoli ini adalah kelompok petani jagung. Kami sangat berharap teman-teman di kelompok tani dapat berusaha dan berjuang sebaik mungkin untuk menghasilkan panen yang memuaskan," ujar Antonius.
Antonius menekankan bahwa kelompok ini dikelola secara profesional, layaknya sebuah bisnis nyata yang menyejahterakan.
"Kelompok ini kita sebut menuju akuntansi karena ini adalah sebuah bisnis yang nyata. Berjuanglah sampai menghasilkan hoang (uang)," tegasnya, memotivasi para hadirin.
Ia juga mengingatkan agar ikatan persaudaraan dan kekompakan senantiasa terjaga layaknya satu keluarga besar. Hal ini mengingat besarnya kepercayaan yang diberikan melalui penyaluran dana desa.
"Jangan berpisah. Ingat, 20 persen dana desa telah disalurkan kepada saudara-saudara sekalian, dan hal itu merupakan sebuah tanggung jawab serta beban yang mulia. Beban dan tanggung jawab ini harus dipikul secara bersama-sama, baik dalam keadaan susah maupun senang," tambahnya dengan nada penuh harap.
Pendamping Desa Kecamatan Mapitara, Silvester Moan Nurak, membagikan kunci sukses yang sesungguhnya dari program ini. Menurutnya, keberhasilan bukanlah tanggung jawab tunggal, melainkan buah dari kerja sama erat antara BUM Desa dan kelompok tani, dengan modal utama sikap proaktif.
"Kunci keberhasilan program ini bukan terletak pada pendamping, PPL, atau pihak lainnya, melainkan ada pada pihak-pihak yang bekerja sama, yakni BUM Desa dan kelompok tani. Jadi, yang diutamakan adalah sikap proaktif," ujar Silvester.
Ia menjelaskan makna sikap proaktif dengan bahasa yang mudah dipahami namun menyentuh.
"Proaktif artinya bekerja tidak perlu harus menunggu disuruh. Kalau misalnya belum tahu apa yang mau dikerjakan, maka harus punya inisiatif untuk bertanya. Proaktif lawannya adalah reaktif, di mana ada aksi dulu baru memberikan reaksi, atau disuruh dulu baru mau bekerja," jelasnya.
Silvester juga menyoroti peran penting BUM Desa sebagai wadah kemandirian, di mana setiap orang adalah pengambil keputusan dan penerima hasilnya.
"Di BUM Desa ini, kita tidak digaji; kita menggaji diri kita sendiri dari hasil panen yang diperoleh. Pemerintah hanya memberikan kita tiga hal, yaitu modal, aturan, dan pendampingan. Dari ketiga hal tersebut, BUM Desa kemudian mengembangkannya sesuai dengan talenta yang dimiliki," pungkasnya.
Silvester juga memaparkan langkah-langkah strategis yang akan diambil setelah proses penanaman rampung nanti, guna memastikan pengelolaan BUM Desa semakin profesional.
"Setelah selesai penanaman, kami bersama BUM Desa akan berkoordinasi dengan pemerintah desa terkait beberapa agenda penting. Agenda tersebut meliputi pelantikan pengurus BUM Desa, pelatihan bagi pengurus, serta penyusunan laporan pertanggungjawaban tiga bulanan," ujarnya.
Kegiatan kemudian berlanjut ke sesi pembekalan teknis yang sangat dinantikan. PPL Pertanian, Martinus Meong, SP, membagikan ilmu praktis dan mendalam mengenai langkah demi langkah budidaya jagung yang sukses.
"Pertama persiapan lahan: bisa dibajak atau dicangkul, atau sistem TOT (Tanpa Olah Tanah) untuk tanah yang sudah gembur. Kedua, penyiapan benih berlabel resmi untuk menjamin kualitas. Selanjutnya tahap tanam yang memperhatikan jarak tanam dan kaidah pemupukan tepat waktu serta dosis," ujar Martinus merinci.
Materi edukasi kemudian diperkaya oleh Yoseph Lavanto, Ketua Kelompok Tani Maju Bersama yang juga dipercayakan oleh BPP Pertanian sebagai petani kunci di Desa Natakoli. Yoseph berbagi pengetahuan dan pengalaman praktisnya mengenai pemupukan.
Yoseph memaparkan jenis-jenis pupuk yang diterima serta frekuensi pemakaian yang disesuaikan dengan kondisi setempat.
"Pupuk yang kita dapat hanya tiga macam, yaitu yang pertama NPK Ponska, yang kedua urea, dan yang ketiga KCL. Bagaimana cara dan dosis pemakaiannya itu, mengingat kondisi kita tidak usah sampai tiga kali, paling banyak dua kali," ujar Yoseph.
Yoseph juga menjelaskan dua metode pemupukan yang bisa diterapkan sesuai kondisi cuaca.
"Bisa menggunakan dua sistem, yaitu yang pertama sistem tabur dan yang kedua sistem kocor, tergantung cuaca dan keadaan udara seperti apa. Kalau banyak hujan lebih baik kita pakai tabur, sebaiknya kalau banyak panas kita pakai kocor," tambahnya.
Dalam suasana yang penuh antusias, seluruh pihak menyepakati jadwal penanaman yang akan dilaksanakan mulai minggu ketiga Maret sampai minggu pertama April 2026, setelah diselesaikannya pengolahan lahan.
Proses penyaluran saprodi yang meliputi bibit, pupuk, pestisida, dan sarana pendukung lainnya diawali dengan penyerahan secara simbolik oleh Direktur BUM Desa, Ketua BPD, PPL Pertanian, dan Pendamping Desa.
Kemudian, bantuan diserahkan secara resmi dan dicatat dalam berita acara demi menjamin transparansi dan akuntabilitas.
Saat ini, ketiga kelompok tani telah menyelesaikan tahap pembersihan lahan dan siap melangkah ke fase pengolahan lahan sesuai jadwal yang telah disepakati. Program ini diharapkan dapat meningkatkan produksi jagung hibrida dan memperkuat ketahanan pangan di Desa Natakoli menuju masa depan yang lebih sejahtera.
(Silvester N)





