BIREUEN— Sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN), khususnya para guru yang menjadi korban bencana banjir di Kabupaten Bireuen, hingga kini dikabarkan belum menerima bantuan dana dari pemerintah, meskipun nama mereka telah tercantum dalam data finalisasi penerima bantuan banjir Tahun 2026. Kondisi tersebut menimbulkan kekecewaan dan keresahan di kalangan ASN terdampak, terlebih menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah yang identik dengan meningkatnya kebutuhan keluarga.
Salah seorang guru berstatus ASN di Bireuen berinisial AN, Selasa (26/5/2026), menyampaikan rasa prihatin dan harapannya agar pemerintah segera mengambil langkah nyata untuk mencairkan bantuan tersebut. Menurutnya, bantuan yang telah tercatat dalam data resmi seharusnya sudah dapat dicairkan dan dimanfaatkan oleh para korban banjir untuk memenuhi kebutuhan mendesak pasca-bencana.
“Yang sangat disayangkan, saat kebutuhan masyarakat semakin mendesak menjelang Iduladha, bantuan itu justru belum bisa digunakan. Padahal kami juga memiliki tanggungan keluarga dan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi ini terasa semakin menyedihkan karena sebagian tenaga honorer dikabarkan telah menerima pencairan bantuan, sementara ASN yang juga terdampak banjir hingga kini belum memperoleh hak yang sama. Menurutnya, musibah banjir tidak membedakan status pekerjaan, karena semua korban merasakan kesulitan yang sama.
“Banjir adalah ujian dari Allah SWT yang datang tanpa memandang siapa pun. Dalam setiap musibah, hadirnya perhatian dan kepedulian pemerintah sangat diharapkan masyarakat,” ungkap AN dengan nada penuh harap.
Ia berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat segera mempercepat proses pencairan bantuan banjir bagi ASN terdampak, sehingga bantuan tersebut benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang membutuhkan.
Dalam ajaran Islam, membantu saudara yang sedang tertimpa musibah merupakan bentuk kepedulian dan amal mulia. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Nilai-nilai kebersamaan dan empati inilah yang diharapkan dapat menjadi semangat bagi semua pihak untuk hadir membantu masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan.
Musibah memang tidak dapat dihindari, namun kepedulian dan keadilan dalam penyaluran bantuan menjadi harapan besar bagi masyarakat kecil agar tetap kuat menjalani kehidupan. Sebab, “keadilan yang dirasakan rakyat adalah cermin hadirnya hati nurani dalam pemerintahan.”
( Hendra)






.jpg)



