Event olahraga berkuda yang menghadirkan peserta dari berbagai daerah tersebut seharusnya memiliki kesiapan pengamanan dan pelayanan medis yang maksimal.
Namun ironisnya, saat insiden kecelakaan terjadi, tim medis disebut tidak tampak siaga di sekitar lintasan pacuan untuk memberikan penanganan cepat terhadap korban.
Kondisi itu pun langsung menuai kritik dari masyarakat dan penonton yang hadir di lokasi. Banyak pihak mempertanyakan kesiapan panitia dalam menjalankan standar keselamatan pada event olahraga berkuda yang memiliki risiko tinggi.
“Ini event besar antar daerah, bukan kegiatan biasa. Keselamatan joki harus jadi prioritas utama. Tim medis seharusnya standby di arena, bukan datang setelah insiden terjadi,” ungkap salah seorang penonton kepada awak media.
Sorotan publik kini mengarah pada dugaan lemahnya koordinasi antara panitia penyelenggara dengan pihak kesehatan maupun pengamanan kegiatan. Apalagi event pacuan kuda Silaitlait membawa nama baik Kabupaten Tapanuli Utara dan menjadi perhatian masyarakat luas.
Sejumlah masyarakat berharap kejadian tersebut menjadi evaluasi serius bagi seluruh pihak penyelenggara agar pelaksanaan event olahraga besar di Tapanuli Utara ke depan lebih mengedepankan keselamatan peserta dan kesiapan penanganan darurat.
“Jangan sampai keselamatan atlet dan joki diabaikan hanya demi suksesnya acara seremonial,” ujar warga lainnya.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada penjelasan resmi dari panitia pelaksana Kejurda maupun pihak terkait mengenai tidak terlihatnya kesiapan tim medis saat insiden kecelakaan joki terjadi di arena pacuan kuda Silaitlait.
(Edys lumbantoruan)






.jpg)



