Agenda pelestarian alam bertajuk "Pelestarian Pesisir, Kesejahteraan Nelayan" ini dirancang sebagai instrumen mitigasi perubahan iklim sekaligus kado ekologis bagi Bumi Lancang Kuning. Gerakan ini difokuskan untuk mengembalikan fungsi kawasan penyangga sungai sebagai penahan abrasi dan pusat pemulihan ekosistem perairan darat.
"Aksi ini merupakan wujud Konkrit kepedulian perusahaan sejalan dengan momentum hari jadi kota Pekanbaru. Perusahaan berkomitmen menjaga keseimbangan antara Kegiatan perusahaan dan pelestarian tanaman mangrove diwilayah bantaran sungai tegas rusdi, perwakilan PT Gerindo Investa International.
Inisiatif lingkungan ini juga menjadi dukungan nyata terhadap program Green Policing yang dicanangkan oleh Kapolda Riau. Program tersebut mendorong sinergi aktif antara aparat kepolisian, dunia usaha, dan elemen masyarakat dalam menjaga kelestarian teritorial serta keamanan lingkungan hidup.
Selanjutnya, struktur akar mangrove diproyeksikan menjadi benteng alami pada titik-titik tebing sungai yang rawan mengalami erosi dan pengikisan akibat arus kapal yang lewat serta menjadi kawasan esensial bagi pemulihan populasi ikan dan udang galah yang menjadi komoditas utama nelayan lokal.
“Sinergi ini bukti dunia usaha peduli lingkungan. Di usia Pekanbaru 242 tahun, mari jaga ‘paru-paru’ pesisir kita. Mangrove lestari, nelayan sejahtera, Pekanbaru berkelanjutan,” ujar Rusdi.
PT Gerindo Investa International mendukung kegiatan penghijauan lingkungan, maka dari itu Perusahaan mengajak seluruh stakeholder pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha - untuk bersama menjaga tanaman mangrove sebagai “paru-paru” disepanjang pesisir sungai siak.
Gerakan restorasi pesisir ini mendapat apresiasi luas dari lembaga adat dan kelompok masyarakat tempatan. Panglima Laskar Hulubalang Melayu Bersatu Kecamatan Rumbai Timur, M. Edi Chandra, menegaskan bahwa kelestarian Sungai Siak berkaitan erat dengan penjagaan marwah dan eksistensi budaya Melayu Riau.
“Selamat Hari Jadi ke-242 untuk Kota Pekanbaru, kota bertuah negeri beradat. Kami dari Laskar Hulubalang Melayu Bersatu Rumbai Timur mendukung penuh gerakan ini, Tanaman mangrove adalah benteng alam melayu, jika pesisir tumbung kembang, hadirlah identitas baru disertai pendapatan yang memadai. Menjaga lingkungan di usia kota yang ke-242 tahun sama dengan menjaga marwah dan masa depan Melayu Riau,” tegas M. Edi Chandra.
Perwakilan nelayan tradisional menyatakan bahwa kehadiran tanaman mangrove berskala massal ini memberikan harapan baru bagi peningkatan hasil tangkapan harian. Melalui sistem akar yang rapat, kawasan Okura diproyeksikan mampu bertransformasi menjadi "paru-paru" hijau baru yang menopang ketahanan ekonomi sirkular masyarakat pesisir di Kota Pekanbaru.
(Putra)








.jpg)



