ALASAN PENOLAKAN: BUDAYA, HUKUM, DAN EKOLOGI
Menurut Dewan Adat Sub suku Srer, wilayah yang direncanakan jadi sawah tersebut adalah "lumbung sagu" dan hutan adat yang sudah diwariskan turun-temurun selama generasi.
"Sagu bagi orang Srer bukan cuma makanan. Sagu itu doa, ritual adat, dan identitas kami. Kalau tanah itu jadi sawah padi, sama saja negara memaksa kami ganti budaya,"tegas Darius Srefi.
Penolakan ini didasari 3 hal:
1. Tanpa Musyawarah & Izin: Masuknya alat berat dan tim survei padi tidak pernah dimusyawarahkan dengan Dewan Adat sub suku Srer. Ini bertentangan dengan UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa Pasal 18B dan UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lingkungan Hidup.
2. Ancaman Budaya: Alih fungsi dari sagu ke padi dianggap sebagai "kriminalisasi budaya". Masyarakat Srer adalah "orang sagu", bukan "orang padi".
3. Ancaman Ekologi: Pembukaan lahan gambut/rawa untuk padi berisiko merusak sumber air, habitat ikan, dan meningkatkan banjir.
TIDAK ANTI PEMBANGUNAN, TUNTUT DIALOG SETARA
Dewan Adat Srer menegaskan tidak anti ketahanan pangan nasional. Namun mereka meminta Pemda Sorsel dan pihak investor menghormati kearifan lokal.
"Kami tidak tolak makan. Kami tolak dipaksa ganti piring. Kalau mau bicara pangan, duduk dulu sama kami. Mana lahan yang boleh digarap, mana yang harus lindung. Jangan main tunjuk pakai traktor," ujar Darius Srefi, Ketua Komunitas pemuda Adat (Slow bailo) sub suku Srer.
TUNTUTAN SUB SUKU SRER KEPADA NEGARA:
1. Hentikan semua aktivitas alat berat dan penanaman padi di wilayah adat Srer mulai hari ini.
2. Buka ruang dialog terbuka, setara, dan beradab antara Pemda, Investor, dan Dewan Adat sub suku Srer (Slow bailo)
3. Segera lakukan pemetaan dan pengakuan wilayah adat Srer melalui Perbup sesuai amanat UU Pemajuan Masyarakat Adat.
4. Evaluasi izin/dukungan Pemda terhadap proyek padi yang tidak melalui mekanisme FPIC - _Free, Prior, and Informed Consent_.
*ANCAMAN AKSI ADAT*
Jika tuntutan tidak diindahkan dalam 14x24 jam, Sub Suku Srer mengancam akan melakukan "sasi adat" dan aksi damai di Kantor Bupati + DPRD Sorsel.
"Kami cinta damai. Tapi kami lebih cinta tanah leluhur dan sagu kami," tutup Darius Srefi.
(Moy)






.jpg)



