Kegiatan yang berlangsung di Rumoh Tuha, salah satu kafe di Kota Bireuen, itu berlangsung dalam suasana hangat, penuh kekeluargaan, dan kebersamaan. Momen tersebut diisi dengan sarapan pagi dan minum kopi bersama sebagai wujud mempererat ukhuwah serta memperkuat hubungan persaudaraan antarsesama.
H. Jamal 88 dikenal sebagai salah satu pengusaha properti yang sukses di Kabupaten Bireuen. Selain aktif di dunia usaha, ia juga merupakan tokoh masyarakat yang memiliki kepedulian sosial tinggi dan dikenal luas, baik di Aceh maupun di luar daerah. Keramahan serta kedekatannya dengan masyarakat menjadikannya sosok yang dihormati di berbagai kalangan.
Silaturahmi yang digagas H. Jamal 88 menjadi bukti bahwa hubungan baik antarsesama perlu terus dipelihara tanpa memandang jabatan, profesi, maupun latar belakang. Nilai persaudaraan yang dibangun dengan keikhlasan merupakan fondasi penting dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis, rukun, dan saling menghormati.
Dalam kesempatan tersebut disampaikan pesan bahwa, "Silaturahmi bukan sekadar mempertemukan tangan, tetapi juga menyatukan hati. Hubungan yang dirawat dengan keikhlasan akan melahirkan keberkahan, memperkuat persaudaraan, serta menghadirkan kebaikan bagi semua."
Dalam ajaran Islam, menjaga tali silaturahmi memiliki kedudukan yang sangat mulia. Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa saja yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaknya senantiasa menyambung tali silaturahmi. Hal ini menunjukkan bahwa silaturahmi bukan hanya bernilai ibadah, tetapi juga menjadi jalan hadirnya keberkahan dalam kehidupan.
Menjaga silaturahmi juga merupakan salah satu wujud kesempurnaan iman. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa orang yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir hendaknya senantiasa menjaga hubungan baik dengan sesama. Dengan mempererat kasih sayang dan persaudaraan, seseorang akan semakin dekat dengan rahmat dan kasih sayang Allah SWT.
Selain menghadirkan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat, silaturahmi juga menjadi salah satu amalan yang mengantarkan seseorang kepada kebaikan dan keberkahan. Sebaliknya, Islam memberikan peringatan agar umatnya tidak memutus tali persaudaraan, karena perbuatan tersebut termasuk perbuatan yang tercela.
Silaturahmi bukan sekadar tradisi, melainkan investasi nilai yang manfaatnya akan terus dirasakan sepanjang kehidupan. Ketika hati dipersatukan dalam kebersamaan, akan tumbuh kepercayaan. Ketika persaudaraan dijaga dengan keikhlasan, keberkahan akan menyertai setiap langkah.
Sebagaimana ungkapan bijak, "Persaudaraan yang tulus tidak diukur dari seberapa sering bertemu, melainkan dari seberapa kuat menjaga rasa saling menghormati, saling membantu, dan saling mendoakan dalam setiap keadaan." Oleh karena itu, semangat kebersamaan dan nilai-nilai silaturahmi hendaknya senantiasa dipelihara sebagai warisan moral yang memperkokoh persatuan serta membangun masyarakat yang lebih harmonis dan sejahtera.
( Hendra)






.jpg)



