Informasi tersebut disampaikan Hartaeli Lahagu melalui Grup WhatsApp Nias Barat Milik Kita, Rabu (19/08/2026). Dalam unggahannya, ia turut membagikan video berdurasi sekitar 42 detik yang memperlihatkan kondisi salah satu ternak babi yang telah mati.
Hartaeli menyampaikan bahwa kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak terhadap pengelolaan program ketahanan pangan tahun 2025 yang direalisasikan melalui BUMDes Cempaka. Menurutnya, program yang diharapkan dapat memberikan manfaat dan keuntungan bagi desa justru terancam mengalami kerugian apabila kematian ternak terus terjadi.
“Saya rasa pada ketahanan pangan tahun 2025 bukan keuntungan yang ada, tetapi kehancuran dana BUMDes yang ada, karena sudah empat ekor babi mati,” tulis Hartaeli dalam keterangannya.
Atas kondisi tersebut, pihak pemerintah desa bersama masyarakat berharap dinas terkait segera turun ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan terhadap ternak, mengetahui penyebab kematian, serta memberikan penanganan dan solusi yang tepat agar penyakit tersebut tidak semakin meluas.
“Harapan kami sebagai masyarakat, kami mohon kepada dinas terkait untuk menangani dan memberikan solusi pada penyakit ternak babi tersebut,” lanjutnya.
Masyarakat berharap persoalan ini mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah, mengingat pengelolaan BUMDes dan program ketahanan pangan merupakan bagian dari upaya meningkatkan perekonomian serta kesejahteraan masyarakat desa. Penanganan yang cepat dinilai penting untuk mencegah kerugian yang lebih besar dan menjaga keberlanjutan program tersebut.
(Utema Gulo)



%20Narkotika%20Kelas%20IIA%20Muara%20Beliti%20di%20Kabupaten%20Musi%20Rawas.jpg)









