• Jelajahi

    Copyright © Metronewstv.co.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Oku

    Empat Lawang

    Sports

    Malaka di Ujung Merah Putih VI, Rayakan Kemerdekaan Sambil Berduka untuk Flores

    Monday, August 17, 2026, 09:42 WIB Last Updated 2026-08-17T02:42:09Z

    BETUN — Perayaan Malaka di Ujung Merah Putih (MDUMP) Jilid VI di Lapangan Misi Betun, Minggu (16/8/2026), berlangsung dalam suasana berbeda. Di tengah semarak menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Komunitas Lafaek Malaka bersama para pegiat komunitas dan masyarakat turut membawa duka atas bencana gempa yang menimpa saudara-saudari mereka di Flores.


    MDUMP VI tahun ini mengusung tema “Merajut Kebersamaan, Menghargai Sejarah, Membangun Harapan.” Namun, gempa yang terjadi di Flores sehari sebelumnya membuat perayaan kemerdekaan tersebut tidak hanya menjadi ruang kegembiraan, tetapi juga ruang untuk menyampaikan doa dan solidaritas kemanusiaan.


    Suasana duka mulai terasa sejak doa pembukaan. Seorang tokoh agama Katolik secara khusus mendoakan masyarakat Flores yang terdampak gempa, sekaligus memohon kekuatan, keselamatan dan ketabahan bagi para korban serta keluarga yang sedang menghadapi bencana.


    Usai doa, para pegiat komunitas membentuk lingkaran dan berdiri dalam keheningan untuk mengenang para korban. Momen mengheningkan cipta tersebut diiringi lagu “Tanah Airku”.


    Untuk beberapa saat, Lapangan Misi Betun berubah menjadi ruang perenungan. Tidak ada sorak-sorai maupun tepuk tangan. Yang terdengar hanyalah lantunan lagu dan keheningan peserta sebagai bentuk penghormatan kepada para korban gempa di Flores.


    Solidaritas kemudian diwujudkan dalam bentuk nyata. Komunitas Lafaek Malaka menyediakan kotak donasi bagi masyarakat yang ingin memberikan bantuan kepada para korban bencana di Flores.


    Kepedulian tersebut menunjukkan bahwa solidaritas tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Setiap orang dapat mengambil bagian sesuai kemampuan, termasuk melalui doa, perhatian dan bantuan sederhana.


    Suasana semakin menyentuh ketika ASDM x Sasoka tampil membawakan musikalisasi puisi berjudul “Ketika Pertiwi Menangis”, yang secara khusus didedikasikan bagi para korban gempa di Flores.


    Puisi dan musik berpadu menjadi refleksi tentang tanah air yang sedang berduka. Penampilan tersebut kemudian mencapai puncaknya ketika para penonton diajak bersama-sama menyanyikan lagu “Kulihat Ibu Pertiwi.”


    Suara penonton perlahan menyatu. Lagu itu tidak lagi sekadar menjadi bagian dari pertunjukan, tetapi berubah menjadi ungkapan bersama untuk saudara-saudari di Flores yang sedang menghadapi bencana.


    Jika “Tanah Airku” mengiringi keheningan untuk mengenang para korban, maka “Kulihat Ibu Pertiwi” menjadi suara bersama untuk merasakan luka tanah air.


    MDUMP VI akhirnya tidak hanya menjadi ruang untuk merayakan kemerdekaan. Perayaan tersebut juga menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa nasionalisme dapat hadir melalui hal-hal sederhana: mendoakan, mengheningkan cipta, berbagi, berkarya dan berdiri bersama mereka yang sedang berduka.


    Dari Malaka, daerah di ujung perbatasan Indonesia, pesan itu disampaikan melalui doa, keheningan, lagu, puisi, musik dan sebuah kotak donasi. 

    (Fabianus Bria)

    Komentar

    Tampilkan