BIREUEN - Di usia ke-81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, pemerataan pembangunan di bidang pendidikan masih menjadi pekerjaan penting yang harus mendapat perhatian bersama. Di tengah semangat mencerdaskan kehidupan bangsa, masih terdapat satuan pendidikan di Kabupaten Bireuen yang membutuhkan perhatian serius terhadap kondisi sarana dan prasarana belajar.
Salah satunya adalah SMA Negeri 1 Simpang Mamplam, Kabupaten Bireuen, yang hingga saat ini masih membutuhkan bantuan Revitalisasi Satuan Pendidikan, atau yang kerap disingkat Revit dalam aplikasi resmi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Program tersebut merupakan bentuk dukungan pemerintah dalam rehabilitasi maupun pembangunan sarana dan prasarana pendidikan agar lingkungan sekolah menjadi lebih aman, nyaman, dan layak bagi peserta didik.
Kondisi tersebut semakin mendesak karena terdapat tiga rombongan belajar (rombel) di sekolah tersebut yang dinilai sudah tidak layak lagi digunakan sebagai ruang belajar oleh para peserta didik.
Kepala SMA Negeri 1 Simpang Mamplam, Marzuki, S.Pd., M.M., saat ditemui pada Sabtu (15/8/2026), mengatakan bahwa pihak sekolah setiap tahun telah mengajukan permohonan bantuan revitalisasi kepada pemerintah. Namun, hingga saat ini usulan tersebut belum juga terealisasi.
“Setiap tahun pihak sekolah selalu mengajukan usulan bantuan, tetapi sampai detik ini belum juga terealisasi,” ungkap Marzuki.
Menurutnya, kebutuhan terhadap ruang belajar yang layak semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah peserta didik pada tahun ajaran baru. Kondisi tersebut membuat ketersediaan rombel menjadi kebutuhan yang sangat mendesak, sehingga seluruh siswa dapat mengikuti proses pembelajaran dengan aman, nyaman, dan tenang.
“Penambahan jumlah siswa pada tahun ajaran baru tentu membutuhkan tambahan ruang belajar. Kami sangat berharap kebutuhan rombel ini mendapat perhatian, karena kenyamanan dan keselamatan siswa harus menjadi prioritas utama,” ujarnya.
Selain persoalan ruang belajar, pihak sekolah juga menghadapi kondisi plafon sejumlah ruangan yang membutuhkan rehabilitasi.
Sebagian plafon mulai mengalami kerusakan dan bahkan terdapat bagian yang sudah mulai jatuh. Kondisi tersebut terutama terlihat pada ruang laboratorium komputer.
Kerusakan plafon tersebut dikhawatirkan dapat membahayakan keselamatan siswa dan guru apabila tidak segera mendapatkan penanganan.
Terlebih lagi, sekolah tengah mempersiapkan berbagai kegiatan akademik, termasuk pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026 mendatang.
Pihak sekolah berharap pemerintah melalui instansi terkait dapat segera memberikan perhatian dan mengambil langkah nyata terhadap kondisi tersebut. Bantuan revitalisasi bukan sekadar persoalan memperbaiki bangunan, tetapi merupakan bagian dari upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan mendukung kualitas pembelajaran.
Sekolah merupakan tempat anak-anak bangsa menuntut ilmu, menggantungkan cita-cita, dan mempersiapkan masa depan. Karena itu, sarana pendidikan yang layak seharusnya tidak dipandang sebagai kemewahan, melainkan sebagai kebutuhan dasar dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan berkeadilan.
Di usia kemerdekaan yang telah mencapai 81 tahun, sudah semestinya tidak ada lagi peserta didik yang harus belajar dalam ruang yang tidak layak atau berada di bawah plafon yang sewaktu-waktu dapat membahayakan keselamatan mereka.
Sebagaimana ungkapan bijak, “Pendidikan adalah jembatan menuju masa depan, dan jembatan yang kokoh harus dibangun dengan fondasi yang kuat.” Begitu pula sekolah; kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh guru dan kurikulum, tetapi juga oleh lingkungan belajar yang aman, sehat, dan manusiawi.
Harapan besar kini tertuju kepada pemerintah dan seluruh pihak terkait agar persoalan yang dihadapi SMA Negeri 1 Simpang Mamplam dapat segera ditindaklanjuti. Sebab, membangun sekolah berarti membangun generasi, dan menyelamatkan fasilitas pendidikan berarti menjaga masa depan anak-anak bangsa.
“Jangan menunggu sebuah bangunan benar-benar runtuh untuk menyadari pentingnya sebuah perbaikan. Pencegahan hari ini adalah bentuk kepedulian terhadap keselamatan dan masa depan generasi mendatang.”
(Hendra)












