Dari 170 siswa yang mengalami keluhan tersebut, sebanyak 26 siswa sempat dibawa ke Rumah Sakit Penyangga Perbatasan (RSPP) Betun untuk mendapatkan penanganan medis. Sebagian telah diperbolehkan pulang, sementara empat siswa masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Kepala SDK Kabukalaran, Antonius Nahak Tahuk, mengatakan dirinya tidak berada di sekolah saat kejadian berlangsung. Sejak pukul 07.00 WITA, dirinya bersama para kepala sekolah lainnya mengikuti pertemuan dengan Wakil Bupati Malaka di Rumah Jabatan Wakil Bupati.
“Saya sejak pagi jam tujuh tidak di sekolah, karena hari ini semua kepala sekolah ikut pertemuan dengan Wakil Bupati Malaka di rumah jabatan,” jelas Antonius ketika diwawancarai melalui sambungan telepon WhatsApp, Kamis, 10 September 2026.
Menurut Antonius, pendistribusian MBG ke sekolah biasanya dilakukan sekitar pukul 09.00 WITA. Setelah makanan tiba, para guru kelas biasanya melakukan pengawasan terhadap proses pembagian makanan kepada siswa di masing-masing kelas.
“Biasanya MBG ke sekolah jam 9 karena anak kelas 1 dan 2 keluar jam 11 dan biasanya para guru kelas akan mengawasi distribusi MBG ke setiap kelas,” katanya.
Antonius mengaku mengetahui kejadian tersebut setelah mendapat informasi dari Wakil Bupati Malaka yang kemudian memanggil dirinya dan menanyakan kondisi para siswa.
Ia mengatakan, untuk saat ini pihak sekolah lebih memprioritaskan kesembuhan seluruh siswa yang mengalami keluhan.
“Untuk saat ini kita fokus dulu terhadap kesembuhan anak-anak. Untuk selanjutnya nanti akan kita duduk bersama, pihak sekolah, orang tua dan SPPG untuk mencari solusi yang baiknya seperti apa,” ujarnya.
Antonius menjelaskan, siswa yang mengalami mual dan muntah tersebut berasal dari enam kelas, mulai dari kelas I hingga kelas VI.
“Ada 170 siswa dari enam kelas mulai dari kelas satu sampai kelas enam mengalami mual dan muntah. Yang dibawa ke rumah sakit ada 26 orang siswa, namun sudah dipulangkan ke rumah. Untuk sementara yang masih dirawat ada empat orang dan besok sudah bisa kembali ke rumah,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Lakulo, Simon Klau Berek, mengatakan kejadian tersebut menjadi pembelajaran bagi semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program MBG, baik orang tua, guru maupun pihak SPPG.
Menurut Simon, proses pengolahan dan penyajian makanan kepada siswa harus menjadi perhatian serius agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
“Kejadian ini memberikan pembelajaran untuk semua pihak, baik masyarakat, sekolah dan terutama SPPG agar lebih berhati-hati dalam mengolah dan menyajikan makanan kepada siswa-siswi sehingga kejadian ini tidak terulang kembali,” kata Simon.
Simon mengaku baru mengetahui informasi tersebut dan langsung bersama kepala sekolah serta pegawai SPPG mendatangi RSPP Betun untuk melihat kondisi anak-anak yang masih menjalani perawatan.
“Saya juga baru tahu informasi dan sekarang saya dan kepala sekolah dan pegawai SPPG ada di rumah sakit melihat anak-anak yang sementara dirawat,” jelasnya.
Ia juga mengimbau kepada para orang tua agar selalu memperhatikan kondisi anak sebelum berangkat ke sekolah, termasuk memastikan anak-anak mendapatkan sarapan pagi.
Menurut Simon, perhatian terhadap kebersihan makanan juga perlu dilakukan oleh seluruh penerima program MBG, termasuk ibu hamil, ibu menyusui dan lanjut usia.
“Selama ini saya sampaikan juga kepada ibu hamil, ibu menyusui dan lansia yang terima MBG untuk selalu menjaga kebersihan,” ujarnya.
Kejadian yang dialami ratusan siswa tersebut kini menjadi perhatian, terutama terkait proses penyediaan, pengolahan, distribusi hingga makanan dikonsumsi oleh para siswa.
Pihak sekolah berharap seluruh siswa yang terdampak segera pulih dan kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi bersama untuk meningkatkan pengawasan terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Malaka.
(Fabianus Bria)



%20Narkotika%20Kelas%20IIA%20Muara%20Beliti%20di%20Kabupaten%20Musi%20Rawas.jpg)









