
Heri Seran, yang akrab disapa Heri, meminta Dinas Pendidikan Kabupaten Malaka, Dinas Kesehatan Kabupaten Malaka, serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberikan informasi secara transparan terkait hasil pemeriksaan sampel makanan yang telah dikirim ke laboratorium.
Dalam pernyataan tertulis yang disampaikan melalui pesan WhatsApp pada Sabtu, 12 September 2026, Heri mengaku prihatin karena hingga dua hari setelah sampel makanan dikirim untuk diperiksa, hasil pemeriksaan tersebut belum diumumkan kepada publik maupun orang tua siswa yang terdampak.
Menurut Heri, belum keluarnya hasil pemeriksaan tersebut menimbulkan sejumlah pertanyaan di tengah masyarakat. Ia mempertanyakan apakah proses pemeriksaan membutuhkan waktu lebih lama karena jenis zat atau racun yang diduga harus diidentifikasi secara lebih teliti, atau terdapat kendala lain dalam proses pemeriksaan.
“Apakah proses pemeriksaan laboratorium memerlukan prosedur yang lebih lama dari biasanya karena jenis racun yang diduga perlu identifikasi yang lebih teliti? Apakah keterbatasan peralatan laboratorium atau tenaga ahli menjadi penyebab belum keluarnya hasil pemeriksaan?” demikian pertanyaan yang disampaikan Heri.
Ia juga mempertanyakan kemungkinan adanya kendala administratif maupun persoalan dalam pengambilan sampel yang menyebabkan hasil pemeriksaan belum dapat disampaikan.
Heri menilai, pemerintah dan pihak terkait perlu memberikan penjelasan sementara kepada masyarakat mengenai tahapan pemeriksaan yang sedang berlangsung agar tidak berkembang spekulasi di tengah masyarakat.
“Kami meminta pihak terkait, khususnya tenaga medis dan petugas laboratorium yang menangani pemeriksaan sampel, untuk memberikan penjelasan yang transparan mengenai tahapan pemeriksaan yang sedang dilakukan dan kapan hasil akhir dapat diinformasikan kepada publik,” tegasnya.
Menurut Heri, keterbukaan informasi sangat penting agar para orang tua mengetahui penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami anak-anak mereka sekaligus mendapatkan kepastian mengenai keamanan makanan MBG yang kembali diberikan kepada siswa.
Selain persoalan hasil laboratorium, Heri juga menyoroti sikap Kepala SDK Kabukalaran yang disebut meminta pengelola dapur MBG tetap melanjutkan pengantaran makanan kepada para siswa dengan alasan kualitas makanan perlu diperhatikan agar kejadian serupa tidak terulang.
Heri menilai keputusan tersebut perlu dipertanyakan dari sisi keselamatan siswa, terutama ketika masih terdapat anak-anak yang mengalami gangguan kesehatan dan menjalani perawatan.
“Di saat puluhan anak masih sakit dan dalam perawatan, seharusnya prioritas utama adalah menghentikan sementara penyebaran makanan sampai ada kepastian hasil pemeriksaan laboratorium dan jaminan keamanan pangan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa keselamatan dan kesehatan peserta didik semestinya menjadi pertimbangan utama dalam setiap pengambilan keputusan di lingkungan sekolah.
Heri kemudian mempertanyakan apakah terdapat prosedur darurat yang secara khusus diterapkan sekolah ketika terjadi kejadian luar biasa yang diduga berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi siswa.
“Apakah keselamatan dan kesehatan anak-anak bukan prioritas utama lembaga pendidikan ini, ataukah kepentingan kelancaran program lebih tinggi daripada keselamatan puluhan anak yang masih sakit? Apakah tidak ada prosedur darurat yang berlaku di sekolah ketika terjadi kejadian luar biasa seperti ini?” tanya Heri.
Ia mengatakan, pihaknya tidak bermaksud memberikan tuduhan secara berlebihan. Namun, menurutnya, keputusan untuk tetap mendistribusikan makanan ketika penyebab gangguan kesehatan belum diketahui secara pasti berpotensi menimbulkan kekhawatiran baru di kalangan orang tua.
Heri mengingatkan bahwa apabila makanan yang sama ternyata masih memiliki persoalan keamanan, maka terdapat kemungkinan kejadian serupa kembali terjadi dan berdampak terhadap lebih banyak siswa.
Karena itu, ia meminta seluruh pihak yang bertanggung jawab terhadap program MBG melakukan evaluasi menyeluruh, mulai dari bahan baku, proses pengolahan, pengemasan, pengangkutan hingga makanan diterima dan dikonsumsi oleh siswa di sekolah.
Bagi Heri, persoalan tersebut tidak semata-mata menyangkut kelancaran program MBG, tetapi menyangkut hak anak untuk mendapatkan makanan yang aman serta lingkungan pendidikan yang menjamin keselamatan dan kesehatan mereka.
Berdasarkan hal tersebut, Heri menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pihak terkait.
Pertama, hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan diminta segera disampaikan secara transparan kepada masyarakat dan orang tua siswa.
Kedua, ia meminta penghentian sementara pendistribusian makanan MBG di SDK Kabukalaran maupun sekolah lain yang memperoleh makanan dari sumber yang sama sampai terdapat kepastian keamanan berdasarkan pemeriksaan medis dan laboratorium.
Ketiga, Dinas Pendidikan Kabupaten Malaka diminta melakukan evaluasi terhadap pengambilan keputusan di lingkungan SDK Kabukalaran, khususnya yang berkaitan dengan keselamatan siswa dalam situasi kejadian luar biasa.
Keempat, pengelola program MBG diminta memperketat jaminan keamanan pangan mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, pengemasan, pengangkutan hingga pendistribusian makanan ke sekolah.
Kelima, Heri meminta adanya pertanggungjawaban terhadap penanganan dan perawatan anak-anak yang menjadi korban serta jaminan kesehatan bagi mereka apabila di kemudian hari ditemukan dampak kesehatan yang berkepanjangan.
“Kami berharap peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak, agar keselamatan dan kesehatan anak-anak selalu menjadi prioritas nomor satu di atas segalanya,” katanya.
Heri berharap seluruh proses penanganan kasus tersebut dilakukan secara serius, adil dan transparan. Ia juga meminta hasil pemeriksaan laboratorium nantinya dapat menjadi dasar yang objektif untuk mengetahui penyebab gangguan kesehatan yang dialami para siswa serta menentukan langkah selanjutnya.
Kasus yang menimpa siswa SDK Kabukalaran tersebut sebelumnya menjadi perhatian publik setelah sejumlah siswa mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi makanan MBG. Kepastian mengenai penyebab gangguan kesehatan tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan sampel oleh pihak berwenang.
(Fabianus Bria)


%20Narkotika%20Kelas%20IIA%20Muara%20Beliti%20di%20Kabupaten%20Musi%20Rawas.jpg)









