• Jelajahi

    Copyright © Metronewstv.co.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Oku

    Empat Lawang

    Sports

    Kamis Berbusana Adat, SMAN Harekakae Dorong Penghargaan terhadap Tenun Ikat Lokal

    Thursday, September 24, 2026, 15:18 WIB Last Updated 2026-09-24T08:18:05Z

    MALAKA — Inovasi kepemimpinan Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) Harekakae, Kabupaten Malaka, Robertus B Tahuk, diwujudkan melalui kebijakan yang mendorong guru dan staf untuk menghargai serta melestarikan budaya daerah.


    Salah satu kebijakan tersebut adalah kewajiban bagi seluruh guru dan staf SMAN Harekakae untuk mengenakan busana adat setiap hari Kamis. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya menanamkan nilai penghargaan terhadap karya kerajinan masyarakat lokal, khususnya tenun ikat Malaka dan Nusa Tenggara Timur (NTT) pada umumnya.


    Robertus B Tahuk mengatakan, penggunaan busana adat bukan hanya berkaitan dengan pelestarian budaya, tetapi juga menjadi bentuk dukungan nyata terhadap masyarakat penenun dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di daerah.


    “Kalau kita beli dari masyarakat yang menenunkan, penghasilannya akan kembali kepada masyarakat penenun kita, dan itu salah satu dukungan kita terhadap UMKM di NTT,” ujar Robertus B Tahuk saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (24/9/2026).


    Menurutnya, kebijakan tersebut juga diharapkan dapat menjadi contoh bagi peserta didik. Guru dan staf tidak hanya memberikan pendidikan melalui proses pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga melalui keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.


    Dengan mengenakan busana adat, para guru dan staf diharapkan dapat menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya lokal sekaligus memperkenalkan nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi muda.


    Robertus menegaskan, kewajiban mengenakan busana adat setiap hari Kamis berlaku bagi seluruh guru dan staf sekolah. Jika terdapat guru atau staf yang tidak mengenakan busana adat tanpa alasan yang jelas, pihak sekolah akan memberikan teguran secara lisan.


    “Teguran lisan itu untuk mengingatkan guru atau staf agar pada minggu berikutnya tidak lupa atau lalai menggunakan busana adat,” jelasnya.


    Ia berharap kebijakan sederhana tersebut dapat terus membangun kesadaran bersama bahwa pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau pelaku seni, tetapi juga dapat dilakukan melalui kebiasaan sehari-hari di lingkungan sekolah.


    Selain menjadi identitas budaya, penggunaan tenun ikat lokal juga memiliki nilai ekonomi. Ketika masyarakat membeli dan menggunakan produk tenun yang dibuat oleh penenun lokal, secara tidak langsung mereka turut membantu menjaga keberlangsungan mata pencaharian masyarakat sekaligus menggerakkan ekonomi daerah.


    Langkah SMAN Harekakae tersebut menjadi salah satu bentuk nyata bagaimana lingkungan pendidikan dapat mengambil bagian dalam menjaga identitas budaya Malaka dan NTT, sembari memberikan ruang bagi karya masyarakat lokal untuk tetap dihargai dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

    (Fabianus Bria)

    Komentar

    Tampilkan