BIREUEN - Pemerintah Kabupaten Bireuen akan memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Bireuen pada Oktober 2026. Tahun ini, peringatan hari jadi daerah akan dikemas secara sederhana dan penuh makna, dengan mengusung tema “Bireuen Berselawat”.
Peringatan HUT tidak diarahkan pada kemeriahan yang berlebihan. Sebaliknya, momentum tersebut akan diisi dengan doa bersama dan berbagai kegiatan yang merefleksikan semangat kebersamaan, kepedulian, serta penghormatan kepada masyarakat yang masih menghadapi dampak bencana banjir.
Konsep peringatan tahun ini disesuaikan dengan kondisi masyarakat Bireuen yang masih berada dalam tahap pemulihan pascabanjir. Pemerintah Kabupaten Bireuen ingin menjadikan hari jadi daerah bukan sekadar seremoni, melainkan momentum untuk menguatkan solidaritas dan membangkitkan kembali semangat masyarakat.
Ketua Panitia Pelaksana HUT ke-27 Kabupaten Bireuen, Kepala Dinas PUPR Bireuen Ir. Fadli Amir, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., mengatakan pelaksanaan HUT tahun ini akan dibuat lebih sederhana dibandingkan tahun sebelumnya.
“Peringatan HUT Bireuen ke-27 kita laksanakan sesederhana mungkin. Kita tidak ingin merayakannya secara berlebihan, karena masih ada saudara-saudara kita yang sedang berduka dan masih berjuang memulihkan kehidupan setelah musibah banjir,” ujar Fadli Amir, Sabtu (26/9/2026).
Menurutnya, tema “Bireuen Berselawat” dipilih sesuai arahan Bupati Bireuen Ir. H. Mukhlis, S.T. Tema tersebut diharapkan menjadi sarana untuk memperkuat doa, mempererat persaudaraan, sekaligus menumbuhkan optimisme masyarakat dalam menghadapi masa pemulihan.
“Selawat bukan hanya lantunan lisan, tetapi juga pengingat agar kita senantiasa memperkuat persaudaraan, memperbanyak doa dan menumbuhkan kepedulian. Dalam keadaan sulit, kekuatan terbesar kita adalah kebersamaan,” katanya.
Puncak HUT Digelar 12 Oktober
Puncak peringatan HUT ke-27 Kabupaten Bireuen dijadwalkan berlangsung pada 12 Oktober 2026, yang ditandai dengan Upacara Peringatan HUT Kabupaten Bireuen di Lapangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Cot Gapu.
Rangkaian kegiatan selanjutnya akan memadukan syiar Islam, pelestarian adat dan budaya, hiburan rakyat, olahraga, serta penguatan ekonomi masyarakat.
Sejumlah agenda yang disiapkan antara lain lantunan selawat, penampilan Marawis dan Hadrah, serta ceramah agama. Selain itu, panitia juga merancang kegiatan pelestarian kearifan lokal melalui Festival Meurukon tingkat kecamatan dan Festival Toet Beude Trieng, yang mengangkat tradisi meriam bambu sebagai bagian dari kekayaan budaya masyarakat Aceh.
Di bidang pemberdayaan ekonomi, kegiatan akan diisi dengan Pameran UMKM Kecamatan dan Festival Kuliner Tradisional. Sementara untuk membangun kebersamaan dan kesehatan masyarakat, rangkaian acara turut diramaikan dengan jalan santai serta turnamen olahraga rakyat berupa Sepak Bola Piala Bupati tingkat kecamatan.
Fadli Amir mengajak seluruh masyarakat Bireuen menjadikan HUT ke-27 bukan hanya sebagai peringatan bertambahnya usia daerah, tetapi sebagai momentum untuk memperkuat persatuan dan membangun kembali semangat kebersamaan setelah melewati ujian bencana.
Menurutnya, Bireuen memiliki sejarah panjang sebagai Kota Juang dan Kota Santri, sehingga nilai perjuangan, persaudaraan, dan religiusitas harus terus menjadi kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan.
Ia kembali mengingatkan semboyan Kabupaten Bireuen:
“Gemilang Datang Padamu, Bila Tekad Kukuh Berpadu.”
Semboyan tersebut, katanya, menjadi pesan penting bahwa kemajuan daerah tidak lahir dari kerja satu pihak, melainkan dari tekad dan langkah yang dipadukan seluruh elemen masyarakat.
“Musibah banjir telah menguji ketabahan kita. Tetapi setiap ujian juga mengajarkan kita tentang arti kepedulian, persaudaraan dan kekuatan untuk bangkit. Mari kita jadikan HUT Bireuen ke-27 sebagai momentum untuk saling menguatkan, merapatkan barisan, memperbanyak selawat dan doa, serta bersama-sama membangun kembali Bireuen yang lebih kuat, aman, makmur dan bermartabat,” ujar Fadli.
“Kita mungkin tidak dapat menghapus jejak musibah yang telah berlalu, tetapi kita dapat menentukan bagaimana Bireuen bangkit setelahnya. Ketika doa dipanjatkan, tangan saling menguatkan, dan tekad dipadukan, insyaallah setiap kesulitan akan menjadi jalan menuju kebangkitan.”
Peringatan HUT ke-27 Bireuen tahun ini diharapkan menjadi cermin bahwa hari jadi sebuah daerah bukan semata tentang kemeriahan, tetapi juga tentang rasa syukur, kepedulian kepada sesama, penghormatan kepada mereka yang sedang berduka, serta tekad bersama untuk menatap masa depan dengan penuh harapan.
( Hendra)





%20Narkotika%20Kelas%20IIA%20Muara%20Beliti%20di%20Kabupaten%20Musi%20Rawas.jpg)









