Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Umum YSPN, Marsdya TNI (Purn.) Daryatmo beserta rombongan, Direktur Keuangan Perum Bulog bersama jajaran, Pimpinan Perum Bulog Cabang Lhokseumawe Muhammad Iqbal, Wakil Bupati Bireuen Ir. Razuardi, M.T., Sekretaris Daerah Ismunandar, para asisten daerah, kepala SKPK, Camat Juli, Komandan Polisi Militer, perwakilan Kodim 0111/Bireuen, Kapolsek Juli beserta jajaran,Kejaksaan Negeri Bireuen, para mukim, keuchik, kepala sekolah tingkat SMA, SMP, SD, serta insan pers dari berbagai media di Kabupaten Bireuen.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Bireuen Ir. Razuardi, M.T. menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat datang kepada rombongan YSPN atas kepedulian dan kontribusinya dalam mendukung ketahanan pangan di daerah.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Bireuen, kami mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada Yayasan Swatantra Pangan Nusantara. Ketahanan pangan merupakan pilar utama kedaulatan sebuah bangsa. Program Swasembada Pangan Berbasis Sekolah yang diinisiasi YSPN merupakan sebuah langkah inovatif dan visioner dalam membangun kesadaran pangan sejak dini,” ujarnya.
Menurutnya, pendidikan tidak hanya sebatas proses belajar mengajar di ruang kelas, tetapi juga membentuk karakter dan kepedulian generasi muda terhadap lingkungan serta masa depan pangan bangsa.
Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Bireuen sangat mengapresiasi bantuan yang diserahkan YSPN berupa benih tanaman, pupuk cair, polybag untuk mendukung kegiatan pertanian sekolah, serta bantuan beras sebanyak satu ton yang akan memberikan manfaat besar bagi lingkungan pendidikan.
“Bantuan ini bukan sekadar materi, melainkan simbol kepedulian dan investasi bagi masa depan generasi muda Bireuen agar semakin mencintai sektor pertanian dan mampu menjadi pelaku utama dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional,” katanya.
Wakil Bupati juga mengajak Dinas Pendidikan, Dinas Pertanian, kepala sekolah, serta para guru untuk menjaga dan memanfaatkan bantuan tersebut secara optimal.
“Jadikan lingkungan sekolah sebagai laboratorium hidup, tempat anak-anak belajar berinovasi, berkarya, dan memahami pentingnya ketahanan pangan. Dari sekolah hari ini, kita sedang menyiapkan generasi Indonesia Emas yang berdaulat di bidang pangan,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Umum YSPN, Marsdya TNI (Purn.) Daryatmo menjelaskan bahwa program ini bertujuan menanamkan nilai-nilai penting kepada para pelajar, seperti tanggung jawab, gotong royong, inovasi, dan semangat kewirausahaan di bidang pertanian.
“Petani masa depan adalah petani modern yang dikelola oleh sumber daya manusia unggul dan profesional. Mereka adalah anak-anak sekolah yang kita bina hari ini. Kita harus mulai mempersiapkan regenerasi petani karena sebagian besar petani saat ini telah memasuki usia lanjut dan belum sepenuhnya mengadopsi sistem pertanian modern,” ungkapnya.
Daryatmo menambahkan bahwa program serupa telah dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia, antara lain Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, Jawa Barat, Tasikmalaya, hingga Merauke.
Dari berbagai kunjungan tersebut, terlihat adanya peningkatan kesadaran dan pemahaman siswa terhadap pentingnya ketahanan pangan melalui pembelajaran kontekstual berbasis praktik langsung di sekolah.
Menurutnya, swasembada pangan tidak harus dipandang sebagai sesuatu yang rumit. Langkah kecil yang dilakukan secara bersama-sama dapat menghasilkan dampak yang sangat besar.
“Bayangkan jika setiap sekolah menanam beberapa pohon cabai saja. Dengan jumlah sekolah yang mencapai jutaan di seluruh Indonesia, akan tercipta ratusan juta pohon cabai yang dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Dari langkah sederhana lahir perubahan besar,” jelasnya.
Kegiatan penanaman bibit cabai dan terong ini menjadi simbol komitmen bersama antara pemerintah, dunia pendidikan, dan masyarakat dalam membangun budaya ketahanan pangan sejak dini serta menyiapkan generasi muda yang produktif, inovatif, dan berdaya saing.
"Bangsa yang kuat bukan hanya yang mampu membangun gedung-gedung tinggi, tetapi bangsa yang mampu menyiapkan generasinya untuk menjaga ketersediaan pangan negeri."
"Menanam hari ini bukan sekadar untuk panen esok, tetapi untuk memastikan masa depan yang lebih mandiri dan berkelanjutan bagi anak cucu kita."
(Hendra)






.jpg)



