Penghargaan tersebut menjadi semakin istimewa karena ia hadir di Istana Negara untuk mengikuti Upacara Penurunan Bendera HUT RI ke-81, sekaligus membawa pulang hadiah berupa sepeda motor listrik atas busana adat Nias yang dikenakannya.
Dengan mengenakan Busana Adat Nias, ia tampil membawa identitas dan kekayaan budaya Nias di tengah keberagaman busana adat Nusantara yang dikenakan para undangan.
Baginya, mengenakan pakaian adat Nias di Istana Negara bukan sekadar penampilan, tetapi merupakan sebuah kebanggaan dan kehormatan karena dapat memperkenalkan budaya Nias di panggung nasional.
“Mengenakan pakaian adat Nias selalu memberikan rasa bangga yang tak ternilai. Terima kasih kepada tim juri atas penilaiannya pada Busana Adat Nias yang saya kenakan. Sebuah kehormatan buat Suku Nias,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia atas inisiatif yang mewajibkan para undangan mengenakan busana adat Nusantara dalam momentum kenegaraan.
Menurutnya, ketentuan tersebut menjadi kesempatan yang sangat baik untuk memperkenalkan pakaian adat dari berbagai daerah sekaligus menunjukkan kekayaan budaya Indonesia.
“Saya yakin dan percaya bahwa semua baju adat dari setiap suku di Indonesia sangat bagus dan cantik sekali. Semoga di kesempatan berikutnya, baju adat lainnya bisa terpilih,” katanya.
Penghargaan tersebut tidak hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga menjadi kebanggaan bagi masyarakat Nias. Kehadiran Busana Adat Nias di Istana Negara menunjukkan bahwa kekayaan budaya daerah memiliki tempat penting dalam wajah Indonesia.
Momentum ini sekaligus menjadi gambaran nyata semangat Bhinneka Tunggal Ika: berbeda suku, berbeda budaya dan berbeda pakaian adat, tetapi tetap satu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Bhinneka Tunggal Ika, walau berbeda-beda budaya, kita tetap satu jua. Ya’ahowu.”
(ITESDUHA)



%20Narkotika%20Kelas%20IIA%20Muara%20Beliti%20di%20Kabupaten%20Musi%20Rawas.jpg)









