Bukan sekadar pertunjukan, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi para siswa untuk mengenal, mencintai, sekaligus ikut menjaga keberadaan seni dan budaya tradisional di tengah perkembangan zaman.
Dengan latar panggung bernuansa wayang dan ornamen khas Jawa, para siswa tampil percaya diri di hadapan guru dan teman-teman mereka. Ada yang berperan sebagai tokoh pewayangan, ada pula yang tampil sebagai bagian dari rangkaian pertunjukan budaya.
Kepala SMPN 1 Pagu, Tri Utami, S.Pd., mengatakan kegiatan Jumat Budaya sengaja dikemas sebagai sarana pembelajaran yang menyenangkan sekaligus memberikan pengalaman langsung kepada siswa.
“Harapan kami, kegiatan ini bisa menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya sendiri. Anak-anak tidak hanya melihat atau mempelajari budaya dari buku, tetapi juga terlibat langsung, tampil, berkreasi dan ikut melestarikannya,” terang Tri Utami.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan bagi sekolah untuk menggali berbagai potensi dan bakat yang dimiliki para siswa.
“Kami ingin menggali bakat dan kemampuan anak-anak. Mungkin ada yang memiliki kemampuan di bidang seni, tampil di depan umum, bermain peran, maupun kreativitas lainnya. Melalui kegiatan seperti ini, potensi tersebut bisa muncul dan terus dikembangkan,” jelasnya.
Lebih dari itu, Jumat Budaya juga menjadi media untuk menanamkan nilai kebersamaan kepada peserta didik. Proses menyiapkan penampilan, berlatih, membagi tugas hingga tampil bersama dinilai dapat membentuk karakter siswa agar terbiasa bekerja dalam tim.
"Kami juga ingin menanamkan rasa gotong royong dan kerja sama antar teman. Mereka belajar bahwa sebuah penampilan tidak bisa dilakukan sendiri. Ada proses saling membantu, menghargai peran teman, disiplin dan bertanggung jawab terhadap tugas masing-masing,” imbuhnya.
Tri Utami menambahkan, pendidikan karakter tidak selalu harus disampaikan melalui pembelajaran di dalam kelas. Nilai-nilai positif justru dapat tumbuh melalui pengalaman langsung ketika siswa terlibat dalam sebuah kegiatan bersama.
“Anak-anak belajar banyak hal dari kegiatan ini. Mereka belajar percaya diri, belajar menghargai teman, belajar bertanggung jawab, sekaligus belajar mencintai budaya yang menjadi bagian dari identitas kita,” katanya.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan Jumat Budaya, khususnya para guru, wali kelas dan orang tua siswa.
“Saya selaku kepala sekolah sangat berterima kasih kepada semua bapak dan ibu guru, terutama para wali kelas, serta orang tua siswa yang sudah dengan totalitas mendampingi dan mendukung sepenuh hati kegiatan Jumat Budaya ini. Dukungan mereka sangat berarti bagi anak-anak,” ungkapnya.
Menurut Tri Utami, kolaborasi antara sekolah, guru dan orang tua menjadi salah satu kunci agar kegiatan pengembangan karakter dan kreativitas siswa dapat berjalan maksimal.
“Ketika sekolah dan orang tua memiliki semangat yang sama untuk mendukung anak, saya yakin potensi anak-anak akan semakin berkembang. Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai sebuah pertunjukan, tetapi menjadi pengalaman yang membekas dan membentuk karakter mereka,” demikian pungkasnya.
Jumat Budaya di SMPN 1 Pagu sekaligus menunjukkan bahwa sekolah dapat menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan budaya kepada generasi muda. Di tengah derasnya arus budaya modern, siswa tetap diberi kesempatan untuk mengenal akar budaya sendiri melalui cara yang kreatif, menyenangkan dan melibatkan mereka secara langsung.
(Taufiq R.)



%20Narkotika%20Kelas%20IIA%20Muara%20Beliti%20di%20Kabupaten%20Musi%20Rawas.jpg)









