
Utema Gulo menilai pemberitaan salah satu media online, Suararakyattanimbar.site, yang terbit pada 1 Oktober 2026 dan mengaitkan dirinya dengan penyebaran informasi hoaks, merupakan tudingan serius yang semestinya disertai dasar, data, serta proses verifikasi yang jelas.
“Saya mengecam keras tuduhan itu. Kalau informasi yang saya sampaikan dianggap hoaks, silakan buktikan bagian mana yang tidak benar. Jangan hanya membuat tudingan tanpa membuka data dan melakukan verifikasi secara berimbang,” tegas Utema Gulo, Jumat (2/10/2026).
Polemik tersebut bermula dari pemberitaan Metronewstv.co.id pada 27 Agustus 2026 berjudul “Pengelolaan Dana BOSP SMP Negeri 1 Sirombu Diduga Tak Sesuai, Realisasi Anggaran Dipertanyakan.”
Menurut Utema, pemberitaan tersebut tidak lahir tanpa dasar. Informasi yang disampaikan sebelumnya berkaitan dengan dugaan persoalan tata kelola dan penggunaan anggaran di lingkungan SMP Negeri 1 Sirombu yang menurutnya perlu diklarifikasi oleh pihak sekolah maupun instansi terkait.
“Yang saya sampaikan adalah informasi yang saya peroleh dan saya dorong agar diverifikasi. Kalau ada yang keliru, mari kita buka data dan luruskan bersama. Jangan persoalan substansi pengelolaan anggaran justru dialihkan menjadi serangan terhadap orang yang menyampaikan informasi,” katanya.
Ia menegaskan, kritik terhadap pengelolaan anggaran pendidikan bukanlah bentuk upaya untuk menjatuhkan pihak tertentu. Sebaliknya, informasi tersebut menurutnya perlu menjadi pintu masuk untuk memastikan pengelolaan dana pendidikan berjalan transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Utema juga mempertanyakan dasar media tersebut dalam menyimpulkan bahwa dirinya menyebarkan hoaks.
Menurutnya, apabila terdapat informasi yang dianggap tidak benar, pihak yang merasa dirugikan memiliki ruang untuk memberikan klarifikasi, menunjukkan data pembanding, serta menggunakan mekanisme penyelesaian pers yang berlaku.
“Kalau ada data yang membantah informasi saya, silakan tampilkan. Kalau ada fakta yang berbeda, saya siap mendengarkan. Tetapi jangan membangun kesimpulan sepihak dan kemudian melabeli seseorang sebagai penyebar hoaks. Itu tuduhan serius dan harus bisa dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Ia juga meminta agar polemik tidak berkembang menjadi upaya pembunuhan karakter terhadap pihak yang menyampaikan informasi kepada publik.
Lebih lanjut, Utema meminta seluruh pihak kembali kepada pokok persoalan, yakni transparansi dan akuntabilitas pengelolaan Dana BOSP di SMP Negeri 1 Sirombu.
Menurutnya, perdebatan seharusnya diarahkan pada pertanyaan sederhana: bagaimana anggaran digunakan, apa dasar penggunaannya, apakah realisasinya sesuai perencanaan, dan apakah seluruhnya dapat dipertanggungjawabkan?
“Saya tidak takut dikritik dan saya juga tidak alergi terhadap koreksi. Tetapi saya menolak apabila kritik terhadap tata kelola anggaran justru dibalas dengan tuduhan yang menyerang pribadi. Mari kita adu data dan fakta, bukan adu label.”
Utema menegaskan bahwa dirinya terbuka terhadap klarifikasi dan siap mempertanggungjawabkan informasi yang disampaikannya sepanjang dilakukan melalui mekanisme yang benar dan berdasarkan data.
“Kalau saya salah, tunjukkan kesalahannya dengan bukti. Kalau ada informasi yang perlu dikoreksi, mari koreksi. Tetapi kalau hanya tuduhan tanpa pembuktian, saya berhak mempertanyakan dasar tuduhan tersebut.”
Ia berharap polemik ini tidak berhenti pada saling tuding di media, tetapi justru menjadi momentum bagi pihak sekolah dan instansi terkait untuk membuka informasi mengenai pengelolaan Dana BOSP secara transparan kepada publik.
“Jangan takut pada kritik. Yang harus kita takutkan adalah ketika persoalan anggaran ditutup oleh kebisingan saling tuduh. Buka data, periksa fakta, dan biarkan publik menilai,” pungkasnya.
(UT)


%20Narkotika%20Kelas%20IIA%20Muara%20Beliti%20di%20Kabupaten%20Musi%20Rawas.jpg)









