LANGKAT – Ratusan umat Muslim melaksanakan salat Jumat di Masjid Ubudiyah, Pangkalan Berandan, Kabupaten Langkat, Jumat 3 Juli 2026 Dalam khutbahnya, Ustad Azhari, S.H.I., yang juga menjabat sebagai Kepala Urusan Agama (KUA) Kecamatan Babalan, menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya meningkatkan ketakwaan serta menjauhi sifat kesombongan.
Mengawali khutbahnya, Ustad Azhari mengajak jamaah untuk senantiasa memperkuat ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjaga amaliah, melaksanakan perintah-Nya, serta menjauhi segala larangan-Nya. Ia juga mengingatkan pentingnya muhasabah atau introspeksi diri di tengah kehidupan yang semakin sibuk mengejar kepentingan duniawi.
“Waktu terus berjalan dan usia kita terus berkurang. Sudah sepatutnya kita menundukkan diri, jujur kepada hati nurani, dan mengevaluasi apa yang telah kita lakukan,” ujarnya.
Ia menyoroti fenomena manusia yang kerap terlena dengan harta, jabatan, dan gelar, hingga tanpa disadari muncul sifat ujub (bangga diri) dan takabur. Bahkan, lanjutnya, tidak sedikit orang yang mulai memandang rendah sesama yang secara ekonomi atau sosial berada di bawahnya.
“Kesombongan sering hadir secara halus. Kita merasa lebih hebat, enggan menyapa yang lemah, bahkan merasa dunia ini terlalu kecil untuk menampung kehebatan kita,” tegasnya.
Dalam khutbah tersebut, Ustad Azhari juga mengingatkan firman Allah SWT dalam Surah Al-Isra ayat 37 yang melarang manusia berjalan di muka bumi dengan penuh kesombongan. Ayat tersebut menegaskan bahwa manusia tidak akan mampu menembus bumi maupun menandingi tingginya gunung, sebagai simbol keterbatasan manusia di hadapan Sang Pencipta.
Ia juga mengutip hadis Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa seseorang tidak akan masuk surga apabila di dalam hatinya terdapat kesombongan, meskipun hanya sebesar biji sawi.
Untuk memperkuat pesannya, Ustad Azhari mengangkat kisah teladan dari sahabat Nabi, Salman Al-Farisi, yang dikenal memiliki sikap tawadhu (rendah hati) meskipun menjabat sebagai gubernur.
Dikisahkan, suatu ketika Salman Al-Farisi berjalan di pasar dengan pakaian sederhana tanpa pengawal. Seorang pedagang yang tidak mengenalinya meminta ia mengangkat barang dagangannya karena mengira Salman hanyalah seorang kuli. Tanpa menunjukkan keberatan, Salman Al-Farisi dengan ikhlas membantu pedagang tersebut.
Di tengah perjalanan, masyarakat yang mengenalnya memberikan salam hormat, hingga pedagang itu menyadari bahwa orang yang membantunya adalah seorang gubernur. Dengan penuh rasa takut, pedagang tersebut meminta maaf, namun Salman tetap melanjutkan bantuannya hingga selesai tanpa menunjukkan kesombongan sedikit pun.
“Dari kisah ini kita belajar bahwa kedudukan dan jabatan tidak boleh membuat kita lupa diri. Hakikat manusia hanyalah makhluk lemah yang berasal dari sesuatu yang hina,” jelasnya.
Di akhir khutbah, Ustad Azhari mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa merendahkan diri di hadapan Allah SWT, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta memohon ampun atas kesalahan yang telah diperbuat.
“Semoga Allah mencabut sifat sombong dari hati kita, menumbuhkan sifat tawadhu, serta mewafatkan kita dalam keadaan husnul khatimah,” pungkasnya.
(Adam)








.jpg)



